Bursa saham Tokyo jatuh lebih dari 2% pada perdagangan Jumat pagi (28/3/2025), di tengah kekhawatiran terkait kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dan aksi ambil untung pasca hak dividen.
Indeks Nikkei 225 merosot 788,31 poin atau 2,09% ke level 37.011,66, sedangkan indeks Topix turun 2,19% ke posisi 2.753,83.
Tekanan datang dari sektor otomotif, di mana saham-saham mobil Jepang dijual massal akibat kekhawatiran rencana tarif tambahan 25% dari AS yang dinilai berpotensi menekan laba perusahaan otomotif dan berdampak pada sektor terkait seperti baja.
Selain itu, sentimen pasar kian tertekan seiring berakhirnya batas waktu untuk memperoleh hak dividen tahunan, memicu aksi jual di berbagai saham.
Di sisi mata uang, dolar AS tetap kuat di kisaran 150 yen setelah imbal hasil obligasi AS naik, dipicu spekulasi akan kembalinya tekanan inflasi akibat rencana tarif baru Trump.
Pada tengah hari, dolar diperdagangkan di level 150,82β83 yen, sedikit melemah dibandingkan New York tetapi lebih tinggi dibandingkan sesi Tokyo sebelumnya.
Analis dari Nomura Securities, Kazuo Kamitani, mengatakan:
βGelombang perkembangan terkait tarif diperkirakan akan muncul, namun ketidakjelasan soal cakupan dan durasinya meningkatkan kecemasan investor.β
Pasar saat ini juga menantikan pengumuman resmi soal tarif tambahan yang dijadwalkan pada Rabu depan, yang disebut Trump sebagai “Hari Pembebasan.”
