Harga minyak mencatat penurunan mingguan terbesar dalam 11 bulan, dipicu oleh laporan pekerjaan AS yang lemah yang menambah kekhawatiran permintaan di konsumen minyak terbesar dunia. West Texas Intermediate (WTI) turun 2,1% menjadi $67,67 per barel, sementara Brent untuk kontrak November turun 2,2% menjadi $71,06 per barel.
Meskipun data pekerjaan AS meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve dapat melakukan pemangkasan suku bunga besar-besaran, laporan tersebut juga menegaskan kekhawatiran mengenai konsumsi minyak yang melemah, yang telah menahan harga crude selama beberapa minggu terakhir.
Langkah-langkah untuk membatasi pasokan minyak belum mampu membalik tren penurunan harga. OPEC+ membatalkan rencana kenaikan produksi 180.000 barel per hari untuk Oktober dan November, namun rencana jangka panjang untuk meningkatkan 2,2 juta barel per hari tetap berjalan, dengan target penyelesaian mundur hingga Desember 2025.
Selain itu, pelemahan ekonomi di China dan AS, dua konsumen minyak terbesar dunia, menambah tekanan pada permintaan. Produksi minyak AS yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir juga memberikan tekanan tambahan pada keseimbangan pasokan global.
Analis menilai bahwa meskipun terjadi penurunan stok minyak AS hampir 7 juta barel pekan lalu, dan OPEC+ menunda kenaikan produksi, faktor permintaan yang lemah tetap menahan harga minyak dari rebound signifikan. Laporan bulanan mendatang dari OPEC, EIA, dan IEA akan menjadi sorotan utama pasar minggu depan.
