Harga minyak mentah dunia bangkit dari pelemahan awal pada Senin berkat meningkatnya optimisme terhadap kemajuan kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Kondisi ini membantu menahan kekhawatiran pasar terhadap lemahnya permintaan global. Kontrak berjangka Brent turun tipis 14 sen atau 0,2% ke level $65,70 per barel, sementara kontrak West Texas Intermediate (WTI) melemah 9 sen atau 0,2% ke $61,41. Keduanya sempat turun hampir 1% di awal sesi sebelum berbalik menguat.
Untuk memahami lebih dalam dinamika pasar energi dan strategi investasi yang tepat, kunjungi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya dan pelajari produk serta profil perusahaan kami.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut bahwa AS dan Tiongkok telah menyusun kerangka substansial untuk kesepakatan dagang yang dapat mencegah tarif 100% terhadap produk Tiongkok dan menunda kontrol ekspor rare earth dari Beijing. Pernyataan ini mendorong reli di bursa saham global, sementara aset safe haven seperti emas dan obligasi mengalami koreksi — memberikan dorongan tambahan bagi harga minyak.
Ikuti pembaruan pasar komoditas dan ekonomi global melalui Instagram resmi Equityworld Praxis Surabaya agar tidak ketinggalan analisis harian dan peluang trading terbaru.
Meski ada optimisme dagang, sebagian analis tetap berhati-hati. Menurut John Evans dari PVM Oil Associates, pelaku pasar minyak lebih skeptis dibanding pelaku pasar saham karena kesepakatan dagang belum tentu langsung mendongkrak permintaan energi. Brent bahkan sempat menyentuh level terendah sejak Mei akibat kekhawatiran permintaan global yang lemah.
Untuk mencoba strategi investasi tanpa risiko, Anda dapat membuka akun demo melalui platform demo resmi Equityworld Futures dan merasakan simulasi perdagangan dengan kondisi pasar nyata.
Namun, faktor lain seperti sanksi baru AS terhadap Rusia dan meningkatnya konsumsi minyak di AS membantu menahan penurunan harga. Menurut Chris Beauchamp dari IG Bank, harapan utama bagi kubu bullish adalah agar konsumsi minyak AS terus pulih; jika tidak, tren pelemahan bisa berlanjut.
Sementara itu, Irak — salah satu anggota OPEC yang kerap melebihi kuota produksi — tengah bernegosiasi mengenai batas produksi minyaknya yang mencapai 5,5 juta barel per hari, menurut Menteri Minyak Hayan Abdel-Ghani. Tahun ini, OPEC dan sekutunya juga mulai membalikkan kebijakan pemangkasan produksi untuk merebut kembali pangsa pasar, langkah yang turut membantu menstabilkan harga minyak dunia.
Untuk berita energi dan analisis pasar global terbaru, kunjungi portal berita resmi kami di Newsmaker.id dan temukan insight mendalam seputar pergerakan harga minyak dan peluang investasi ke depan.
