Harga Minyak Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Ancaman Oversupply Global
Harga minyak melanjutkan reli setelah Amerika Serikat menyita sebuah kapal tanker yang dikenai sanksi di lepas pantai Venezuela, memicu kekhawatiran gangguan pasokan serta meningkatnya tensi geopolitik. WTI untuk pengiriman Januari naik sekitar 0,6% ke kisaran $58,79 per barel, sementara Brent Februari bertahan di atas $62,21 per barel. Tindakan penyitaan kapal super besar ini dipandang sebagai langkah serius Washington terhadap Caracas, yang berpotensi menghambat aliran minyak dari Venezuela.
👉 Ketahui lebih jauh profil dan layanan perusahaan melalui situs resmi kami: PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya.
Venezuela sendiri bukan pemain kecil; negara ini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dan mengekspor sekitar 586.000 barel per hari bulan lalu, dengan sebagian besar menuju China. Sementara itu, sebagian produksi Chevron dari negara OPEC tersebut masih mengalir ke AS dan diklaim beroperasi normal. Di sisi lain, Ukraina kembali meningkatkan tekanan terhadap jaringan ekspor energi Rusia dengan menyerang “shadow fleet” kapal-kapal yang terhubung dengan perdagangan minyak Rusia—setidaknya lima serangan tercatat sejak akhir bulan lalu. Kondisi ini otomatis meningkatkan premi risiko perang dan sanksi di pasar minyak.
👉 Ikuti kanal resmi dan informasi terbaru melalui Linktree EWF Praxis.
Namun, di balik panasnya tensi geopolitik, pasar justru menghadapi fundamental yang cenderung bearish. Kenaikan produksi dari OPEC+ dan kawasan Amerika diproyeksikan melampaui pertumbuhan permintaan yang lesu, sehingga berpotensi menciptakan “super glut” atau kelebihan pasokan besar dalam waktu dekat. Analis seperti Robert Rennie dari Westpac menilai bahwa meski premi risiko geopolitik akan mendorong harga dalam jangka pendek, tekanan oversupply diperkirakan akan menjaga Brent dalam rentang $60–$65 per barel, bahkan berpotensi melemah menuju 2026.
👉 Dapatkan insight pasar harian dan edukasi trading melalui Instagram kami: @equityworld_praxis.official.
Data stok minyak AS turut memberikan gambaran tambahan. Persediaan minyak mentah AS turun sekitar 1,8 juta barel pada pekan terakhir, menandakan adanya penyerapan oleh permintaan atau peningkatan ekspor. Namun, stok di Cushing—titik pengiriman WTI—kembali naik setelah empat minggu penurunan, meski masih berada di level terendah sejak 2007 untuk periode yang sama dalam satu tahun. Kombinasi antara tensi geopolitik yang meningkat dan ancaman oversupply jangka panjang inilah yang mendorong harga minyak naik, meski tetap bergerak dalam rentang yang ketat.
👉 Untuk berita ekonomi & komoditas lainnya, kunjungi portal resmi kami: Newsmaker.id.
