Harga minyak dunia naik untuk hari ketiga berturut-turut seiring meningkatnya ketegangan akibat eskalasi aksi protes di Iran yang memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan dari salah satu produsen minyak terbesar OPEC. Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC, sehingga potensi gangguan sekecil apa pun langsung membuat pasar waspada.
Pada perdagangan Asia, Brent mendekati level US$64 per barel setelah melonjak hampir 6% dalam dua hari terakhir (KamisโJumat), yang menjadi kenaikan dua hari terbesar sejak Oktober. Sementara itu, WTI bertahan di sekitar US$60 per barel, didukung oleh meningkatnya risiko geopolitik.
Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan ada โkonsekuensiโ jika otoritas Iran melakukan kekerasan terhadap para demonstran. Di sisi lain, Teheran memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak melakukan intervensi. Ketegangan ini meningkatkan risiko gangguan terhadap ekspor minyak Iran yang saat ini mendekati 2 juta barel per hari.
Ancaman gangguan pasokan tersebut mulai meredam kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan global (supply glut) yang sebelumnya menekan harga minyak dan membuat banyak investor bersikap bearish. Fokus pasar kini bergeser, tidak lagi semata-mata pada surplus pasokan, tetapi juga pada risiko kekurangan pasokan secara tiba-tiba.
Kekhawatiran ini terlihat jelas di pasar opsi, di mana minat terhadap posisi bullish (call) terus meningkat dan disebut sebagai yang paling agresif untuk kontrak minyak AS sejak Juli. Di saat yang sama, isu Iran sedikit mengalihkan perhatian dari Venezuela, meskipun Trump baru-baru ini menandatangani perintah eksekutif untuk melindungi pendapatan minyak Venezuela yang disimpan di rekening Departemen Keuangan AS dari klaim kreditur.
Meski demikian, Venezuela masih menjadi tanda tanya. Trump juga mengundang pimpinan perusahaan minyak besar seperti Chevron, ExxonMobil, dan ConocoPhillips ke Gedung Putih, dengan janji komitmen investasi hingga US$100 miliar untuk membangun kembali sektor minyak Venezuela. Namun, para eksekutif masih bersikap hati-hati, bahkan CEO Exxon menyebut negara tersebut belum layak untuk investasi.
Sementara itu, risiko di pasar energi juga bertambah setelah Ukraina menyerang tiga platform pengeboran di Laut Kaspia milik perusahaan Rusia, Lukoil, yang semakin menambah lapisan ketidakpastian di pasar minyak global.
