Harga Minyak Naik, Risiko Iran Menguat dan Efek “Freeze” AS Membayangi
Harga minyak dunia bergerak menguat tipis di tengah kondisi pasar yang bercampur. Pelemahan dolar AS membuat minyak terasa lebih murah bagi pembeli global, sementara perhatian pelaku pasar juga tertuju pada laporan perbaikan pasokan dari sejumlah wilayah utama.
Dari sisi geopolitik, sentimen kembali menghangat setelah Presiden AS Donald Trump kembali menyinggung keberadaan “armada besar” militer AS yang bergerak ke Timur Tengah terkait Iran. Meski belum diikuti langkah konkret, pernyataan tersebut cukup untuk menambah risk premium geopolitik ke dalam harga minyak.
Di Amerika Serikat, cuaca dingin ekstrem sempat mengganggu operasional kilang di kawasan Gulf Coast dan menekan produksi domestik. Namun, banyak pelaku pasar menilai dampak ini bersifat sementara. Ketika kondisi cuaca kembali normal, tekanan terhadap pasokan diperkirakan akan cepat mereda.
Sementara itu, kekhawatiran pasokan dari Kazakhstan mulai mereda. Sebuah terminal ekspor utama di Laut Hitam dilaporkan kembali menuju kondisi normal, dan persiapan untuk memulihkan produksi di ladang raksasa Tengiz juga tengah berlangsung. Faktor-faktor ini berpotensi menahan kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Pasar kini menantikan sinyal dari OPEC+ yang dijadwalkan keluar pekan ini. Ekspektasi utama adalah kuota produksi tetap dipertahankan, mengingat belum adanya urgensi bagi OPEC+ untuk menyesuaikan kebijakan terkait isu produksi di Venezuela maupun Iran.
Harga terakhir:
WTI (Maret): USD 61,46 per barel, naik sekitar +1,37% dari penutupan sebelumnya di USD 60,63
Brent: sekitar USD 65,56 per barel, naik +1,22%
(alg)
Sumber: Newsmaker.id
