Equityworld Futures – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Moody’s Pangkas Peringkat Rating Indika Energy (INDY) yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Namun, besarnya kenaikan utang membuat leverage baru akan turun mendekati 4,0 kali pada suatu waktu di 2027..
Prospek peringkat direvisi menjadi stabil dari sebelumnya negatif..
Meski demikian, peningkatan belanja modal Awak Mas akan mempersempit ruang pemenuhan covenant, khususnya terkait batas net debt/EBITDA yang tidak boleh melebihi 3,75 kali pada 2026 tanpa adanya kenaikan laba signifikan atau divestasi aset.
“Meski harga emas yang tetap tinggi akan mendukung perolehan laba yang signifikan setelah operasi dimulai, saat ini perseroan memiliki ruang yang terbatas untuk menyerap tambahan utang pada level peringkat sebelumnya,” sebagaimana dikutip Jumat, (13/2/2026)..
Moody’s memperkirakan anggaran belanja modal terbaru untuk proyek emas Awak Mas meningkat sekitar US$100 juta-US$150 juta sehingga total biaya proyek membengkak hingga sekitar US$567 juta.
Indikator penurunan peringkat antara lain rasio utang terhadap EBITDA bertahan di atas 4,5 kali atau rasio EBIT terhadap bunga turun di bawah 1,5 kali setelah tambang emas mulai beroperasi..
Outlook stabil mencerminkan ekspektasi bahwa risiko eksekusi proyek emas akan menurun sehingga dapat memberikan kontribusi laba pada 2027. Selain itu, mendukung pemulihan metrik kredit.
Setelah Awak Mas beroperasi penuh secara komersial pada awal 2027, kinerja laba diperkirakan membaik.
Melansir laporan resminya, Moody’s juga menurunkan peringkat obligasi senior berjaminan senilai US$455 juta yang jatuh tempo Mei 2029 menjadi B1 dari Ba3.
Selain itu, biaya meningkat akibat kontraktor meminta pembayaran lebih tinggi untuk peralatan. Selain itu, pengadaan di tengah harga emas yang lebih kuat..
Sebaliknya, tekanan penurunan peringkat dapat muncul apabila proyek emas kembali mengalami keterlambatan atau pembengkakan biaya, likuiditas internal tidak memadai, atau perseroan melakukan investasi agresif maupun distribusi kepada pemegang saham.
Belanja modal perseroan pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar US$380 juta, termasuk sekitar US$300 juta untuk proyek Awak Mas.
Kenaikan tersebut sebagian besar akan didanai melalui tambahan utang sehingga utang yang disesuaikan Moody’s berpotensi naik menjadi sekitar US$1,4 miliar pada 2026 dari US$1,1 miliar pada 2025..
Dari sisi likuiditas, Indika dinilai akan mempertahankan posisi yang memadai dalam 12-18 bulan ke depan.
Di sisi lain, rasio leverage yang diukur dari utang terhadap EBITDA versi penyesuaian Moody’s diperkirakan meningkat menjadi sekitar 7,0 kali pada Desember 2026 dari estimasi 6,0 kali pada Desember 2025..
Saldo kas, fasilitas kredit yang belum ditarik, serta arus kas operasi diproyeksikan cukup untuk memenuhi kebutuhan kas dalam periode tersebut..
Penurunan ini mencerminkan metrik kredit perseroan yang sudah tertekan. Selain itu, diperkirakan akan semakin melemah..
Analis Moody’s Anthony Prayugo menyatakan, penurunan peringkat ini mencerminkan metrik kredit Indika yang sudah tertekan, yang akan semakin memburuk akibat peningkatan anggaran belanja modal pada proyek emas Awak Mas di tengah harga batu bara termal yang masih lesu..
Hingga Desember 2025, proyek Awak Mas telah rampung sekitar 50%. Selain itu, ditargetkan mulai uji coba produksi pada akhir 2026.
Kinerja Kideco diperkirakan tetap tertekan di tengah harga batu bara termal yang masih lemah, meski perseroan memiliki fleksibilitas mengatur strip ratio untuk meredam dampak pelemahan harga..
Dengan asumsi harga jual rata-rata batu bara termal sekitar US$51 per metrik ton pada 2026, EBITDA Indika diproyeksikan relatif datar dibandingkan 2025 di kisaran US$200 juta.
Risiko tersebut dapat semakin menekan kinerja perseroan..
Peningkatan peringkat berpotensi terjadi jika rasio utang terhadap EBITDA turun di bawah 4,0 kali. Selain itu, rasio EBIT terhadap beban bunga meningkat di atas 2,0 kali secara berkelanjutan..
Perseroan juga meningkatkan fasilitas kamp pekerja. Selain itu, membangun akses jalan segala cuaca guna mendukung kelancaran operasi saat produksi dimulai.
Moody’s juga mencatat proyeksinya belum memasukkan potensi risiko kebijakan, termasuk kemungkinan perubahan regulasi pertambangan di Indonesia seperti pengenaan pungutan ekspor batu bara.
Indika menyebut peningkatan anggaran tersebut dipicu keterlambatan pembebasan lahan sepanjang 2025 yang membuat konstruksi harus dipercepat demi mengejar target penyelesaian akhir 2026..
Namun hingga Awak Mas berkontribusi signifikan terhadap laba, kualitas kredit Indika masih akan ditopang anak usaha yang dimiliki 91%, yakni PT Kideco Jaya Agung.
Kepatuhan terhadap covenant. Selain itu, perolehan waiver tepat waktu akan menjadi faktor krusial ke depan..
Jakarta, CNBC Indonesia – Lembaga pemeringkat internasional Moody’s menurunkan peringkat kredit PT Indika Energy Tbk (INDY) menjadi B1 dari sebelumnya Ba3.
Dengan asumsi biaya all-in sustaining sekitar US$1.150 per ounce. Selain itu, harga emas US$3.000 per ounce, proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan EBITDA sekitar US$130 juta saat produksi tahunan mencapai 100.000 ounce..
Perkembangan terkait Moody’s Pangkas Peringkat Rating Indika Energy (INDY) akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Sumber asli: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260213143819-17-711001/moodys-pangkas-peringkat-rating-indika-energy–indy-
Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar.
Untuk informasi resmi kunjungi website kami di:
Berita Equity World Futures
Baca juga:
- Saham Eropa Sedikit Berubah Jelang Pidato Jackson Hole
- “Minat Tinggi Investor Terhadap SBR 013: Preferensi Terhadap Tenor Pendek dan Kupon Menarik”
