Harga minyak mentah masih bertahan di zona positif seiring meningkatnya kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah. Pelaku pasar mulai memperhitungkan potensi gangguan pasokan setelah Iran menggelar latihan angkatan laut di sekitar jalur pelayaran strategis menjelang dimulainya kembali pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat. Minyak Brent diperdagangkan sedikit di bawah US$69 per barel setelah menguat 1,3% pada sesi sebelumnya, sementara WTI bergerak di sekitar US$64 per barel.
Di sisi lain, pasar logam mulia justru mengalami tekanan. Harga emas turun sekitar 0,9% menuju area US$4.950 per ounce, sedangkan perak terkoreksi hingga 2,8%. Pergerakan pasar saham Asia juga cenderung terbatas karena aktivitas perdagangan yang masih dipengaruhi suasana libur di beberapa negara kawasan tersebut.
Ketegangan geopolitik kembali menjadi fokus utama investor setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan bertemu dengan kepala pengawas nuklir PBB di Jenewa. Pertemuan tersebut berlangsung menjelang putaran lanjutan negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya akan terlibat secara tidak langsung dalam pembicaraan dan menilai Iran ingin mencapai kesepakatan, meski ancaman sanksi dan opsi militer tetap membayangi proses negosiasi.
Untuk mengikuti update pasar global, berita ekonomi, dan analisis trading terbaru lainnya, Anda dapat mengunjungi Newsmaker.id serta melihat berbagai informasi dan aktivitas perusahaan melalui Social Media EWF Praxis.
Sementara itu, perhatian pasar juga tertuju pada arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Setelah data inflasi AS dirilis lebih rendah dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap peluang penurunan suku bunga The Fed semakin meningkat. Investor kini melihat peluang pemangkasan suku bunga mulai terbuka pada pertengahan tahun, dengan fokus utama tertuju pada data tenaga kerja, pidato pejabat The Fed, dan risalah rapat FOMC yang akan dirilis pekan ini.
Selain isu geopolitik dan suku bunga, pasar saham global juga mulai dibayangi kekhawatiran terhadap dampak perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sejumlah investor menilai adopsi AI berpotensi mengganggu model bisnis di beberapa sektor seperti perangkat lunak, layanan bisnis, dan media. Meski demikian, optimisme di pasar saham AS masih cukup kuat selama kinerja laba perusahaan tetap stabil dan kondisi ekonomi belum menunjukkan perlambatan signifikan.
