Harga minyak dunia bergerak turun pada perdagangan Selasa (17/2) setelah muncul sinyal positif dari perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen tersebut membuat premi risiko geopolitik di pasar energi mulai berkurang dan menekan harga minyak acuan global.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun mendekati level US$62 per barel setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa kedua negara telah mencapai “kesepakatan umum” terkait potensi kerja sama nuklir baru. Kesepakatan tersebut dinilai dapat membuka peluang pencabutan sanksi terhadap Iran sekaligus mengurangi risiko konflik di kawasan Timur Tengah. Ikuti perkembangan berita ekonomi dan komoditas global lainnya melalui Newsmaker Indonesia.
Kemajuan negosiasi ini dipandang berpotensi menghilangkan premi risiko yang selama ini menopang harga minyak sejak awal tahun. Pasar sebelumnya sempat khawatir terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan energi global. Namun, optimisme terhadap jalannya diplomasi membuat pelaku pasar mulai melakukan aksi profit taking pada harga minyak.
Sebelumnya, harga minyak sempat memperoleh dukungan setelah Iran mengumumkan rencana penutupan sebagian Selat Hormuz untuk kepentingan latihan militer. Meski demikian, pelaku pasar menilai potensi gangguan distribusi minyak dunia masih relatif terbatas. Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global. Untuk mendapatkan update market harian dan edukasi trading lainnya, kunjungi juga Instagram Equityworld Praxis Official.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan cukup baik meskipun masih terdapat sejumlah perbedaan penting yang belum terselesaikan. Kedua negara juga disebut akan kembali bertukar proposal sebelum melanjutkan putaran negosiasi berikutnya dalam beberapa pekan mendatang. Pasar kini menilai hasil diplomasi tersebut akan menjadi salah satu faktor utama penentu arah harga minyak selanjutnya.
Tekanan tambahan datang dari aktivitas perdagangan berbasis algoritma yang mempercepat aksi jual di pasar WTI ketika harga mendekati area US$62 per barel. Meski begitu, secara tahunan harga minyak masih mencatat kenaikan hampir 10% berkat kombinasi gangguan pasokan global, risiko geopolitik, dan ketatnya persediaan minyak yang terkena sanksi internasional.
Ke depan, investor akan terus memantau perkembangan negosiasi AS–Iran serta pembicaraan Rusia–Ukraina yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Hasil dari berbagai upaya diplomatik tersebut diperkirakan akan sangat memengaruhi arah pasar energi global dalam beberapa minggu mendatang. Pelajari lebih lanjut mengenai peluang trading komoditas bersama PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya dan coba pengalaman trading melalui Demo Trading EWF.
