0 0
Read Time:2 Minute, 11 Second

Harga minyak bergerak fluktuatif pada perdagangan terbaru namun tetap bertahan di dekat level penutupan tertinggi sejak Juli. Pasar energi masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama menjelang lanjutan pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Di saat yang sama, sentimen risk-off juga muncul setelah pasar saham AS mengalami pelemahan.

Di Amerika Serikat, harga minyak WTI ditutup hampir tidak berubah di kisaran US$66 per barel setelah sebelumnya mencatat kenaikan hampir 6% sepanjang pekan lalu. Lonjakan tersebut dipicu pernyataan Presiden Donald Trump yang membuka kemungkinan opsi militer terhadap Iran. Pasar juga semakin waspada setelah muncul laporan mengenai evakuasi sebagian staf Kedutaan Besar AS di Lebanon sebagai langkah antisipasi terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan.

Bagi Anda yang ingin mempelajari peluang trading komoditas energi dan instrumen investasi lainnya, kunjungi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya. Anda juga dapat mencoba simulasi transaksi secara langsung melalui Demo Account Trading EWF untuk memahami pergerakan pasar global secara real-time.

Putaran lanjutan negosiasi antara AS dan Iran akan berlangsung di Jenewa pada Kamis mendatang. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut peluang tercapainya solusi diplomatik masih terbuka, namun menegaskan Iran tidak akan tunduk pada tekanan militer AS. Hingga saat ini, isu pengayaan uranium tetap menjadi titik paling sensitif dalam pembicaraan dan dinilai berpotensi menghambat tercapainya kesepakatan.

Kekhawatiran terbesar pasar minyak saat ini terletak pada potensi gangguan distribusi energi melalui Strait of Hormuz, jalur vital yang menjadi penghubung ekspor minyak dari negara-negara produsen utama Timur Tengah menuju pasar global. Arab Saudi, Irak, Kuwait, hingga Iran masih sangat bergantung pada jalur tersebut untuk mendistribusikan minyak mereka, terutama ke kawasan Asia dan China. Karena itu, pelaku pasar opsi mulai meningkatkan strategi lindung nilai untuk mengantisipasi lonjakan harga apabila konflik meningkat.

Di tengah ketegangan geopolitik, sejumlah bank investasi global tetap memproyeksikan ruang pelemahan harga minyak dalam jangka menengah. Goldman Sachs Group menaikkan proyeksi harga jangka pendek karena stok minyak negara maju tidak bertambah sebesar perkiraan sebelumnya, namun masih melihat harga Brent berpotensi kembali ke area US$60 per barel pada akhir tahun. Sementara itu, Morgan Stanley juga memperkirakan harga minyak akan kembali turun seiring meredanya premi risiko geopolitik.

Selain isu Timur Tengah, pasar energi juga terus mencermati perkembangan kebijakan tarif AS setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif lama dan pemerintah AS merencanakan tarif baru sebesar 15%. Faktor cuaca ekstrem di New York yang sempat mengganggu distribusi energi turut menambah volatilitas pasar dalam jangka pendek.

Ikuti berbagai update market, berita ekonomi global, dan analisis trading terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis Official serta jaringan sosial media resmi perusahaan di Linktree EWF Praxis. Untuk informasi finansial lainnya, Anda juga dapat mengunjungi Newsmaker.id secara berkala.

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *