Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu setelah pasar mulai meragukan apakah rencana pelepasan cadangan minyak strategis oleh International Energy Agency (IEA) mampu sepenuhnya mengimbangi potensi gangguan pasokan akibat konflik ASโIsrael dengan Iran. Minyak Brent tercatat naik sekitar 0,7% ke level US$88,39 per barel, sementara WTI menguat 1,2% menjadi US$84,43 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi sehari setelah pasar mengalami penurunan tajam lebih dari 11%, menandakan volatilitas harga energi global masih sangat tinggi. Pada awal perdagangan Asia, harga minyak sempat melanjutkan pelemahan sebelum akhirnya berbalik arah dan mencatat penguatan signifikan. Bahkan, WTI sempat melonjak sekitar 5% saat pembukaan sesi perdagangan.
Pantau terus perkembangan market global dan update harga komoditas terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis serta akses seluruh sosial media resmi perusahaan di Linktree Equityworld Praxis.
Laporan media internasional menyebut rencana pelepasan cadangan minyak IEA kali ini berpotensi melampaui pelepasan 182 juta barel yang dilakukan saat konflik RusiaโUkraina pada 2022. Meski demikian, sejumlah analis menilai langkah tersebut kemungkinan hanya mampu menutup sebagian kecil dari potensi gangguan ekspor minyak Teluk yang diperkirakan mencapai lebih dari 15 juta barel per hari apabila konflik terus memburuk.
Di sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah serangan udara besar-besaran kembali terjadi pada Selasa. Pemerintah AS juga dikabarkan meningkatkan pengawasan di sekitar Selat Hormuz setelah adanya ancaman terhadap jalur distribusi energi global. Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan kesiapan AS menjaga keamanan jalur tanker minyak, meskipun laporan menyebut industri pelayaran masih menghadapi risiko keamanan yang tinggi di kawasan tersebut.
Kekhawatiran pasar semakin besar setelah muncul laporan gangguan infrastruktur energi di kawasan Teluk. Beberapa produsen utama disebut mulai mengurangi produksi, sementara kapasitas pengiriman alternatif melalui Laut Merah dinilai belum cukup untuk menggantikan pasokan yang terganggu akibat penutupan jalur Hormuz. Situasi ini membuat premi risiko energi tetap tinggi dan menopang harga minyak dalam jangka pendek.
Sejumlah lembaga keuangan global bahkan memperingatkan potensi kenaikan harga yang lebih ekstrem jika gangguan pasokan berlangsung lama. Beberapa proyeksi memperkirakan harga minyak berpeluang menembus US$150 per barel apabila distribusi energi global terus terganggu. Di sisi lain, data stok minyak AS yang dilaporkan menurun juga memperkuat indikasi bahwa permintaan energi masih tetap solid di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai layanan dan produk trading dari PT Equityworld Futures Praxis Surabaya, Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui Demo Account Equityworld Futures. Dapatkan pula berita ekonomi dan market update terbaru lainnya di Newsmaker Indonesia.
