0 0
Read Time:1 Minute, 55 Second

Harga emas kembali bergerak melemah meskipun tensi geopolitik di Timur Tengah masih meningkat. Pasar saat ini lebih fokus pada lonjakan harga minyak dan gas yang memperbesar risiko inflasi global serta memperkecil peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi kembali menjadi tekanan utama bagi logam mulia.

Analis Commerzbank Research, Barbara Lambrecht, menilai emas belum mampu mendapatkan dorongan signifikan dari konflik geopolitik yang sedang berlangsung. Menurutnya, lonjakan harga energi justru memperkuat kekhawatiran inflasi sehingga pasar mulai memperkirakan bank sentral global akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Ikuti update market harian, analisa komoditas, dan edukasi trading terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis serta akses seluruh sosial media resmi perusahaan di Linktree Equityworld Praxis.

Kenaikan harga energi mengubah sentimen pasar terhadap emas. Jika tekanan inflasi kembali meningkat, maka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter akan semakin terbatas. Situasi tersebut dapat menjaga suku bunga riil dan imbal hasil tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama, yang umumnya kurang mendukung bagi aset non-yielding seperti emas.

Di Amerika Serikat, tekanan tersebut datang bersamaan dengan data ekonomi terbaru yang menunjukkan belanja konsumen hanya mengalami kenaikan tipis pada Januari. Pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dari ekspektasi turut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan harga sebenarnya sudah mulai terbentuk bahkan sebelum konflik Iran memanas. Sentimen konsumen AS juga tercatat melemah ke level terendah dalam tiga bulan akibat kekhawatiran terhadap kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup.

Pelaku pasar kini hampir sepenuhnya menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve pekan depan. Meski peluang penurunan suku bunga tahun ini masih ada, pasar menilai siklus pelonggaran berpotensi tertunda apabila tekanan inflasi terus bertahan tinggi. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump masih terus mendorong penurunan suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Walaupun mengalami tekanan dalam jangka pendek, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 16% sepanjang tahun berjalan dan tetap bertahan di atas level psikologis US$5.000 per ons. Pada perdagangan New York, spot gold tercatat turun 1,2% ke level US$5.019,68 per ons, sementara perak, platinum, dan palladium juga mengalami pelemahan seiring penguatan indeks dolar AS.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai layanan dan produk trading dari PT Equityworld Futures Praxis Surabaya, Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui Demo Account Equityworld Futures. Dapatkan pula berita ekonomi dan market update terbaru lainnya melalui Newsmaker Indonesia.

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *