Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (13/3), dengan minyak Brent ditutup di atas level US$100 per barel untuk sesi kedua berturut-turut. Penguatan ini terjadi seiring konflik Iran yang memasuki pekan ketiga dan aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz yang masih mengalami gangguan serius. Situasi tersebut membuat premi risiko pasokan energi global tetap tinggi meskipun sejumlah negara mulai mengambil langkah untuk menstabilkan pasar.
Minyak Brent berjangka naik sekitar 2,67% atau US$2,68 dan ditutup di level US$103,14 per barel. Sementara itu, WTI menguat 3,11% atau US$2,98 ke level US$98,71 per barel. Pelaku pasar saat ini menilai risiko gangguan pasokan fisik masih menjadi faktor dominan dibanding berbagai kebijakan penstabilan jangka pendek yang telah diumumkan.
Ikuti perkembangan market global, analisa komoditas, dan update ekonomi terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis serta seluruh kanal resmi perusahaan di Linktree Equityworld Praxis.
Sebelumnya, International Energy Agency (IEA) telah menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global, yang menjadi aksi pelepasan stok terbesar dalam sejarah organisasi tersebut. Pemerintah AS juga memberikan kelonggaran sementara bagi India untuk membeli minyak Rusia yang terkena sanksi serta mempertimbangkan pelonggaran aturan Jones Act guna memperlancar distribusi energi domestik.
Namun demikian, pasar menilai langkah-langkah tersebut belum mampu menyelesaikan akar persoalan utama, yaitu terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz dan tingginya ketidakpastian terkait durasi konflik Timur Tengah. Selama distribusi tanker masih terhambat, tambahan suplai dari cadangan strategis hanya dianggap sebagai solusi sementara untuk menjaga stabilitas pasokan global.
Presiden AS Donald Trump juga memberi sinyal bahwa konflik belum mendekati akhir. Dalam pernyataan terbarunya, Trump menegaskan kesiapan militer AS dan meminta publik menunggu perkembangan lebih lanjut terkait situasi Iran. Pernyataan tersebut memperkuat persepsi pasar bahwa risiko geopolitik masih berpotensi bertahan dalam jangka menengah.
Akibatnya, harga minyak kini menjadi sangat sensitif terhadap perkembangan terbaru di kawasan Teluk, terutama terkait keamanan jalur distribusi energi di Selat Hormuz. Selama belum ada tanda normalisasi arus tanker maupun penurunan eskalasi konflik, volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai layanan dan produk trading dari PT Equityworld Futures Praxis Surabaya, Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui Demo Account Equityworld Futures. Dapatkan pula berita ekonomi dan market update terbaru lainnya melalui Newsmaker Indonesia.
