Harga emas kembali tertekan dan mengarah pada penurunan mingguan terbesar sejak tahun 1983, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah. Konflik yang terus meluas membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga Amerika Serikat semakin menurun dan menjadi tekanan besar bagi pasar logam mulia.
Pelemahan emas semakin dalam setelah dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menguat tajam. Sentimen pasar memburuk setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat tengah menyiapkan opsi pengerahan pasukan darat ke Iran. Kondisi ini meningkatkan spekulasi bahwa peluang kenaikan suku bunga pada Oktober dapat mencapai 50%, didorong kekhawatiran inflasi akan semakin tinggi jika konflik berkepanjangan.
Ikuti perkembangan market global, analisa komoditas, dan edukasi trading terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis serta akses seluruh sosial media resmi perusahaan melalui Linktree Equityworld Praxis.
Dari sisi geopolitik, situasi di Timur Tengah juga semakin memanas. Laporan terbaru menyebut pejabat Iran mulai enggan membahas kembali pembukaan Selat Hormuz karena fokus menghadapi serangan yang terus berlangsung. Sementara itu, Pentagon dilaporkan mengirim tambahan kapal perang dan ribuan personel Marinir ke kawasan Timur Tengah untuk memperkuat operasi militer Amerika Serikat.
Meski emas dikenal sebagai aset safe haven, tekanan kali ini justru datang dari kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi, serta meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi. Investor juga mulai melepas saham dan obligasi global karena khawatir dampak kenaikan biaya energi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus mempertahankan inflasi tinggi lebih lama.
Menurut analis pasar, koreksi tajam emas dipicu aksi ambil untung dan likuidasi posisi setelah harga sebelumnya sempat menembus level US$5.200 per ons. Ketika harga mulai turun, banyak investor terkena level stop-loss sehingga tekanan jual meningkat lebih cepat. Faktor teknikal seperti pelemahan moving average juga turut memperbesar tekanan di pasar.
Tekanan tambahan datang dari aksi jual besar di pasar saham global yang memicu kebutuhan likuiditas investor. Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral dilaporkan mulai melambat, sementara arus keluar dana dari ETF emas terus berlanjut dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data Bloomberg, kepemilikan ETF emas turun lebih dari 60 ton dalam tiga pekan terakhir.
Federal Reserve masih menjadi perhatian utama pasar karena investor mulai memperkirakan kebijakan suku bunga akan tetap tinggi lebih lama. Kondisi ini biasanya menjadi hambatan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Meski mengalami tekanan besar, harga emas sejauh ini masih mencatat kenaikan sekitar 4% sepanjang tahun berjalan. Sebelumnya, emas sempat mencetak rekor mendekati US$5.600 per ons pada akhir Januari, didukung tingginya minat investor, pembelian bank sentral, dan kekhawatiran terhadap independensi kebijakan moneter AS.
Pada perdagangan terbaru, harga emas tercatat turun sekitar 3,1% ke level US$4.508,96 per ons dan mengarah pada pelemahan delapan sesi berturut-turut, yang menjadi rentetan penurunan terpanjang sejak Oktober 2023. Penurunan tajam tersebut juga menyeret indikator RSI 14 hari ke bawah level 30, yang oleh sebagian pelaku pasar dianggap sebagai sinyal kondisi jenuh jual.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai layanan dan produk trading dari PT Equityworld Futures Praxis Surabaya, Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui Demo Account Equityworld Futures. Dapatkan pula berita ekonomi dan market update terbaru lainnya melalui Newsmaker Indonesia.
