0 0
Read Time:2 Minute, 31 Second

Harga minyak dunia kembali melonjak dan ditutup pada level tertinggi sejak pertengahan 2022, seiring pasar menilai risiko eskalasi perang Iran masih sangat tinggi dan peluang meredanya konflik dalam waktu dekat semakin kecil. Minyak Brent berhasil bertahan di atas level psikologis US$112 per barel dan memperpanjang kenaikan mingguan sekitar 9% di tengah ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah.

Fokus utama pasar masih tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak global. Hingga saat ini, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut dilaporkan masih sangat terbatas sehingga memicu kekhawatiran besar terhadap distribusi energi dunia. Situasi semakin memanas setelah muncul laporan bahwa Pentagon tengah menyiapkan opsi kemungkinan pengerahan pasukan darat AS ke Iran, meski keputusan final disebut masih belum ditentukan.

Ikuti perkembangan market global, analisa minyak dunia, dan update ekonomi terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis serta akses seluruh kanal resmi perusahaan melalui Linktree Equityworld Praxis.

Di saat yang sama, pejabat Amerika Serikat dilaporkan mulai mengirim ratusan personel Marinir tambahan ke Timur Tengah sambil mempertimbangkan rencana penguasaan hub ekspor minyak Iran di Kharg Island. Langkah tersebut dinilai berisiko tinggi karena dapat memicu balasan langsung dari Teheran, termasuk potensi serangan terhadap fasilitas energi strategis yang berpotensi memperparah gangguan pasokan global.

Reli harga minyak juga didorong laporan bahwa pejabat Iran semakin enggan membahas pembukaan kembali Selat Hormuz. Fokus utama Iran saat ini disebut lebih mengarah pada upaya mempertahankan diri dari serangan AS dan Israel. Kondisi tersebut membuat pasar energi bergerak sangat sensitif terhadap setiap headline geopolitik dan perkembangan militer di kawasan.

Menurut sejumlah analis energi, pasar saat ini berada dalam kondisi sangat bullish karena minimnya bukti normalisasi arus pengiriman minyak di Selat Hormuz. Investor juga terlihat mulai meningkatkan posisi bullish di pasar derivatif minyak. Data dari ICE Futures Europe menunjukkan manajer dana menambah posisi net-long Brent secara agresif, mencerminkan optimisme kenaikan harga terkuat dalam lebih dari enam tahun terakhir.

OPEC dan produsen utama di kawasan Teluk juga mulai terdampak karena sebagian pasokan minyak praktis β€œterjebak” di wilayah Teluk Persia. Penutupan hampir total Hormuz memaksa beberapa negara produsen melakukan penyesuaian produksi sekaligus mengalihkan jalur distribusi energi untuk menjaga stabilitas ekspor.

Ketegangan semakin meningkat setelah serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran diikuti aksi balasan terhadap sejumlah fasilitas penting di kawasan Teluk. Dampaknya tidak hanya terasa di pasar minyak, tetapi juga memicu lonjakan harga gas alam Eropa dan memperbesar risiko inflasi global. Pemerintah dan bank sentral kini mulai memantau potensi efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi dunia jika konflik terus berlanjut.

Pada penutupan perdagangan terakhir, minyak Brent kontrak Mei naik sekitar 3,3% dan ditutup di level US$112,19 per barel, tertinggi sejak Juli 2022. Sementara itu, WTI kontrak Mei menguat 2,8% ke level US$98,23 per barel. Pasar diperkirakan masih akan bergerak sangat volatil selama ketegangan geopolitik dan gangguan distribusi energi global belum menunjukkan tanda mereda.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai layanan dan produk trading dari PT Equityworld Futures Praxis Surabaya, Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui Demo Account Equityworld Futures. Dapatkan pula berita ekonomi dan market update terbaru lainnya melalui Newsmaker Indonesia

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *