Harga minyak dunia melonjak lebih dari 5% setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidakpastian mengenai kesiapan Amerika Serikat untuk bekerja sama dengan Iran dalam upaya mengakhiri konflik regional. Ketegangan yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Timur Tengah semakin memperkuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, dengan Brent mendekati $106 per barel dan WTI berada di sekitar $93 per barel.
Lonjakan harga minyak juga dipicu oleh meningkatnya risiko keamanan di jalur pelayaran strategis. Amerika Serikat sebelumnya telah mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal terkait potensi ancaman dari milisi Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Namun pergerakan harga berlangsung fluktuatif setelah muncul laporan bahwa Iran melalui perantara telah merespons proposal perdamaian 15 poin dari AS, sehingga menambah ketidakpastian arah diplomasi.
Pernyataan terbaru dari Donald Trump yang menekan Iran agar segera merespons pembicaraan damai “sebelum terlambat” turut menambah volatilitas pasar. Di sisi lain, Gedung Putih menegaskan bahwa negosiasi masih berlangsung, sementara Iran tetap menolak pendekatan tersebut dan mengajukan syaratnya sendiri. Kondisi ini membuat setiap perkembangan diplomatik langsung berdampak pada pergerakan harga minyak.
Fokus utama pasar tetap berada pada Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia. Laporan menyebutkan parlemen Iran tengah mempertimbangkan rancangan aturan terkait biaya keamanan bagi kapal yang melintas di kawasan tersebut. Di lapangan, lalu lintas kapal dilaporkan sangat terbatas, dengan prosedur ketat yang melibatkan detail pelayaran hingga persetujuan dari IRGC. Untuk informasi pasar dan profil perusahaan, dapat diakses melalui PT Equityworld Futures Praxis Surabaya https://www.equityworld-futures.com/index.php/id/broker/surabaya-praxis serta pembaruan media sosial melalui Linktree https://linktr.ee/ewfprx.
Konflik yang telah berlangsung beberapa minggu mendorong harga Brent menuju kenaikan bulanan hampir 50%, seiring terganggunya distribusi minyak global yang mengurangi suplai harian secara signifikan. Kondisi ini membuat sistem energi global dinilai semakin rapuh, dengan kapasitas cadangan yang terbatas dan stok yang terus tertekan. Pelaku pasar juga dapat mengikuti update melalui Instagram https://www.instagram.com/equityworld_praxis.official serta mencoba simulasi trading di https://demo.ew-futures.com/login.
Di sisi geopolitik, laporan menyebutkan Amerika Serikat telah mempertimbangkan pengerahan tambahan pasukan militer ke kawasan, termasuk unit Marine Expeditionary dan Divisi Lintas Udara. Langkah ini memperkuat persepsi bahwa opsi militer masih terbuka di tengah ketidakpastian diplomasi yang berjalan.
Pada pembaruan harga, WTI tercatat naik 3,68% menjadi $93,64 per barel, sementara Brent menguat 4,36% menjadi $106,68 per barel. Di sisi lain, pejabat energi regional memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat berdampak besar terhadap ekonomi global, dengan beberapa negara Asia mulai menyesuaikan kebijakan energi untuk mengantisipasi lonjakan biaya. Informasi berita dan analisis ekonomi lainnya dapat diakses melalui https://www.newsmaker.id.
