Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu (29/4) dan mencapai level tertinggi sejak Juni 2022. Kenaikan dipicu belum adanya tanda meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, sementara arus distribusi energi melalui Selat Hormuz masih terganggu dan memperbesar kekhawatiran pasar terhadap menipisnya pasokan energi global.
Minyak Brent sempat melonjak lebih dari 7% hingga menembus level US$119,50 per barel sebelum akhirnya ditutup di sekitar US$118 per barel. Level tersebut menjadi harga tertinggi sejak konflik Iran pecah dua bulan lalu. Sementara itu, minyak mentah WTI ditutup tepat di bawah US$107 per barel setelah mengalami volatilitas tinggi akibat perpindahan posisi kontrak menjelang jatuh tempo kontrak Juni.
Kenaikan terbaru membuat Brent berhasil menghapus seluruh pelemahan yang sempat terjadi setelah gencatan senjata sementara antara AS dan Iran diumumkan awal bulan lalu. Pasar kini mulai lebih memperhitungkan kemungkinan konflik berkepanjangan yang dapat terus mengganggu pasokan energi global dan memperdalam krisis energi internasional.
Ikuti update market terbaru, analisa harga minyak, emas, forex, dan berbagai informasi trading global lainnya melalui Instagram Equityworld Praxis Official serta kanal media sosial resmi perusahaan di Linktree EWF Praxis.
Laporan media internasional menyebut Donald Trump sedang membahas kemungkinan memperpanjang blokade laut terhadap Iran dalam pertemuan bersama pelaku industri energi dan perdagangan. Selain itu, proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz juga dilaporkan ditolak oleh Washington. Kondisi ini membuat arus pelayaran energi di kawasan tersebut praktis masih terhenti.
Dengan Selat Hormuz tetap tertutup, perhatian pasar kini tertuju pada suplai energi dari Amerika Serikat sebagai penyangga utama pasokan global. Data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak domestik mengalami penurunan di tengah lonjakan ekspor energi yang mencapai rekor tertinggi. Di sisi lain, Iran tetap menolak melanjutkan negosiasi ataupun membuka Hormuz selama blokade Amerika Serikat masih diberlakukan.
Situasi ini mulai memberikan dampak nyata terhadap pasar energi global, termasuk lonjakan harga bensin, diesel, dan bahan bakar pesawat yang kembali memicu kekhawatiran inflasi dunia. Ketegangan juga semakin diperburuk setelah muncul kabar bahwa Uni Emirat Arab berencana keluar dari OPEC, meski pasar masih menilai isu tersebut sebagai faktor sekunder dibanding penutupan Hormuz yang menghambat sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia.
Bagi Anda yang ingin memahami peluang trading minyak, emas, forex, maupun indeks global lainnya, Anda dapat mencoba simulasi transaksi secara langsung melalui Demo Account Equityworld Futures. Informasi lengkap mengenai layanan dan profil perusahaan tersedia di PT Equityworld Futures Praxis Surabaya.
Pada penutupan perdagangan, kontrak WTI Juni tercatat naik sekitar 7% ke level US$106,88 per barel, sedangkan Brent Juni menguat 6,1% menjadi US$118,03 per barel. Sementara kontrak Brent Juli ditutup di level US$110,44 per barel. Pelaku pasar kini akan terus memantau perkembangan konflik geopolitik dan kondisi distribusi energi global yang diperkirakan masih menjadi faktor utama penggerak harga minyak dalam jangka pendek. Untuk membaca berita ekonomi dan market terbaru lainnya, kunjungi Newsmaker.id.
