Harga perak melonjak lebih dari 6% ke sekitar US$85,5 per ons pada perdagangan Senin (11/5), setelah sempat melemah di awal sesi. Kenaikan tajam tersebut membawa perak menyentuh level tertinggi dalam hampir dua bulan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Penguatan harga perak dipicu oleh memanasnya kembali hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump dilaporkan menolak proposal perdamaian dari Iran dan menyebut tawaran tersebut sebagai sesuatu yang βsepenuhnya tidak dapat diterima.β Pernyataan tersebut memperbesar risiko eskalasi konflik baru di Timur Tengah, terlebih setelah serangan terbaru pada akhir pekan kembali mengguncang stabilitas gencatan senjata yang telah berlangsung sejak April lalu.
Ikuti update market harian, analisa teknikal, dan berita ekonomi terbaru melalui Instagram resmi kami di
Equityworld Praxis Official Instagram
Kondisi geopolitik yang belum stabil membuat Selat Hormuz disebut masih belum sepenuhnya pulih, sehingga pasokan energi global tetap berada dalam tekanan. Situasi ini menjaga harga minyak tetap tinggi dan memicu kekhawatiran inflasi global kembali meningkat. Akibatnya, investor mulai meningkatkan minat terhadap aset safe haven seperti logam mulia, termasuk perak dan emas.
Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve juga mulai memudar. Pelaku pasar kini terbagi antara skenario pelonggaran terbatas dan kemungkinan tidak adanya penurunan suku bunga pada tahun depan. Ketidakjelasan arah kebijakan moneter tersebut semakin meningkatkan volatilitas di pasar komoditas dan logam mulia.
Pelajari lebih lanjut mengenai produk investasi dan layanan trading bersama
PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya
Coba juga pengalaman trading melalui akun demo gratis di
Demo Trading Equityworld Futures
Pelaku pasar saat ini juga menantikan rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat yang diperkirakan menjadi penentu arah suku bunga jangka pendek The Fed. Selain itu, perhatian investor turut tertuju pada kunjungan Donald Trump ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping guna membahas sejumlah isu penting seperti Iran, Taiwan, kecerdasan buatan (AI), hingga senjata nuklir.
Kombinasi ketidakpastian geopolitik, tingginya harga energi, dan arah kebijakan moneter yang belum jelas diperkirakan akan menjaga volatilitas pasar logam mulia tetap tinggi dalam waktu dekat. Selama risiko global masih membayangi pasar, permintaan terhadap aset lindung nilai diperkirakan tetap bertahan kuat.
Ikuti juga berita ekonomi dan perkembangan pasar finansial terbaru melalui
Newsmaker Indonesia
serta akses seluruh media sosial perusahaan melalui
Linktree EWF Praxis
