Harga emas kembali bergerak melemah pada perdagangan Selasa (19/5) seiring penguatan dolar Amerika Serikat yang membatasi minat investor terhadap logam mulia. Pada pukul 06:08 ET, harga emas spot tercatat turun 0,6% ke level US$4.540,81 per ons, sementara kontrak emas berjangka melemah 0,3% menjadi US$4.544,00 per ons.
Tekanan terhadap emas datang dari penguatan dolar AS yang kembali diminati sebagai aset defensif di tengah ketidakpastian geopolitik global. Dolar yang lebih kuat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri karena diperdagangkan dalam mata uang USD, sehingga permintaan terhadap logam mulia cenderung melemah.
Pantau update market terbaru, analisa harian, dan berita ekonomi global melalui Instagram resmi kami di
Equityworld Praxis Official Instagram
Di sisi makroekonomi, pasar masih menilai dampak konflik Iran terhadap inflasi global, terutama karena Selat Hormuz yang secara efektif masih tertutup. Jalur strategis tersebut merupakan koridor penting bagi sekitar seperlima distribusi minyak dunia sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi dan memicu tekanan inflasi lebih lama.
Meski harga minyak sempat bergerak melemah, levelnya masih jauh di atas harga sebelum konflik terjadi. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga relatif stabil setelah sempat mengalami aksi jual besar beberapa hari terakhir. Kondisi ini membuat pasar tetap mempertahankan ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, lingkungan yang umumnya kurang mendukung bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Pelajari lebih lanjut mengenai layanan investasi dan produk trading bersama
PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya
Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui akun demo gratis di
Demo Trading Equityworld Futures
Di jalur diplomasi, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah mengirim proposal damai kepada Amerika Serikat melalui Pakistan. Proposal tersebut mencakup penghentian permusuhan di berbagai kawasan termasuk Lebanon, pencabutan sanksi, pencairan dana Iran yang dibekukan, hingga penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran.
Namun peluang tercapainya kesepakatan damai dinilai masih terbatas. Proposal terbaru Iran disebut tidak jauh berbeda dari usulan sebelumnya yang sempat ditolak Presiden Donald Trump. Meski Trump menyatakan “negosiasi serius” sedang berlangsung dan mengaku membatalkan rencana serangan baru atas permintaan sejumlah pemimpin Teluk, pasar masih menunggu bukti nyata bahwa jalur diplomasi dapat membuka kembali arus energi global secara normal.
Selama ketidakpastian geopolitik dan risiko inflasi energi masih membayangi pasar, volatilitas harga emas diperkirakan tetap tinggi. Investor saat ini terus memantau perkembangan hubungan AS–Iran serta arah kebijakan moneter Federal Reserve yang menjadi faktor utama penggerak pasar logam mulia.
Ikuti juga perkembangan berita ekonomi dan finansial terbaru melalui
Newsmaker Indonesia
serta akses seluruh media sosial perusahaan melalui
Linktree EWF Praxis
