Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu (20/5) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa negosiasi dengan Iran telah memasuki βtahap akhirβ. Pernyataan tersebut langsung memicu optimisme pasar terhadap kemungkinan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang selama ini menjadi faktor utama pendorong kenaikan harga energi global.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup di level US$98,26 per barel atau melemah lebih dari 5%, sementara Brent turun ke sekitar US$105,02 per barel. Penurunan ini terjadi karena pasar melihat adanya peluang terbukanya kembali jalur distribusi energi global, khususnya Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute perdagangan minyak dan gas paling vital di dunia.
Untuk memperoleh informasi market terbaru, edukasi trading, dan update seputar investasi, Anda dapat mengunjungi Linktree Equityworld Praxis yang menyediakan akses lengkap ke seluruh sosial media resmi perusahaan.
Sebelumnya, Trump dilaporkan menunda rencana serangan militer terhadap Iran demi memberi ruang bagi jalur diplomasi atas permintaan sekutu negara Teluk Arab. Pernyataan tersebut meningkatkan harapan bahwa ketegangan antara kedua negara dapat mereda dalam waktu dekat. Meski demikian, situasi masih penuh ketidakpastian karena Iran dan AS disebut masih berada dalam kebuntuan diplomatik, termasuk aksi saling blokade pelabuhan yang berpotensi mengganggu rantai pasokan energi global.
Sejumlah lembaga keuangan internasional tetap mengingatkan bahwa risiko gangguan pasokan minyak belum benar-benar hilang. Citibank menilai pasar masih meremehkan dampak jangka panjang apabila gangguan di Selat Hormuz terus berlangsung. Bahkan dalam skenario tertentu, harga Brent diperkirakan dapat melonjak hingga US$120 per barel dalam jangka pendek. Sementara itu, Wood Mackenzie memperingatkan harga minyak berpotensi menembus US$200 per barel apabila Selat Hormuz tetap tertutup hingga akhir tahun.
Namun sebaliknya, jika kesepakatan damai antara AS dan Iran berhasil tercapai dalam waktu dekat dan jalur perdagangan energi kembali normal pada Juni mendatang, harga minyak diprediksi turun cukup signifikan. Wood Mackenzie memperkirakan harga Brent spot dapat bergerak menuju area US$80 per barel pada akhir 2026 apabila kondisi geopolitik benar-benar stabil.
Bagi Anda yang ingin belajar trading dan memahami dinamika pasar energi global secara langsung, Anda dapat mencoba simulasi transaksi melalui Demo Account Equityworld Futures tanpa menggunakan dana riil.
Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran karena setiap pernyataan maupun langkah politik dapat memicu volatilitas besar di pasar energi. Pergerakan harga minyak tidak hanya memengaruhi sektor energi, tetapi juga berpotensi berdampak pada inflasi global, nilai tukar mata uang, hingga kebijakan bank sentral dunia.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai layanan dan profil perusahaan, kunjungi PT Equityworld Futures Praxis Surabaya. Dapatkan juga berita ekonomi dan analisa market terbaru melalui Newsmaker Indonesia serta ikuti update harian di Instagram resmi Equityworld Praxis Official.
