
Harga minyak dunia mencatat kenaikan terbatas setelah sebelumnya membukukan penurunan kuartalan terdalam sejak masa pandemi. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran, sekaligus memantau pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia. Pada perdagangan pagi di Singapura, minyak Brent diperdagangkan di atas US$73 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$70 per barel.
Optimisme pasar didorong oleh laporan mengenai kemajuan proses diplomasi di Qatar. Utusan Amerika Serikat, Jared Kushner dan Steve Witkoff, dikabarkan menjalani pembicaraan yang berlangsung positif, sementara dialog teknis dengan Iran juga terus menunjukkan perkembangan. Upaya tersebut diharapkan mampu meredakan ketegangan di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan negara-negara produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai berbagai produk investasi dan profil PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya, kunjungi https://www.equityworld-futures.com/index.php/id/broker/surabaya-praxis.
Menurut Samantha Dart, Co-Head of Global Commodities Research Goldman Sachs, pasar minyak tidak lagi memberikan respons berlebihan terhadap ketegangan terbaru di Selat Hormuz. Hal itu didukung oleh stabilnya ekspor energi Amerika Serikat serta permintaan impor dari China yang masih berjalan relatif konsisten. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak juga tertekan seiring berlanjutnya pembahasan menuju kesepakatan damai yang lebih permanen. Meski sempat terjadi gangguan akibat serangan di sekitar Hormuz, lalu lintas kapal tanker kini mulai kembali normal. Ikuti juga perkembangan pasar dan informasi terbaru melalui media sosial resmi perusahaan di https://linktr.ee/ewfprx atau Instagram https://www.instagram.com/equityworld_praxis.official.
Goldman Sachs memperkirakan konflik berpotensi mereda pada akhir Juli. Apabila arus pelayaran di Selat Hormuz benar-benar pulih, pasar diperkirakan akan kembali menghadapi potensi kelebihan pasokan minyak sehingga premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga dapat berkurang. Pandangan serupa juga disampaikan Morgan Stanley yang menilai pemulihan arus kapal berlangsung lebih cepat dari perkiraan, sementara produksi minyak Amerika Serikat tetap tinggi dan permintaan dari China belum menunjukkan pemulihan yang signifikan. Kondisi tersebut mendorong bank investasi tersebut kembali memangkas proyeksi harga minyak dalam waktu sekitar dua pekan.
Tekanan terhadap harga juga datang dari meningkatnya pasokan global. Iran mengklaim telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak sejak Amerika Serikat mencabut blokade lautnya. Selain itu, ekspor minyak Rusia juga dilaporkan mencapai level tertinggi sehingga menambah jumlah pasokan yang beredar di pasar internasional. Meski demikian, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang karena Iran kembali menegaskan tekadnya untuk mengendalikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Bagi Anda yang ingin mengenal fitur trading lebih dalam, akun demo dapat dicoba secara gratis melalui https://demo.ew-futures.com/login.
Pada perdagangan terbaru, Brent untuk pengiriman September naik sekitar 0,7% menjadi US$73,45 per barel, sedangkan WTI pengiriman Agustus menguat 0,9% ke level US$70,11 per barel. Secara keseluruhan, kenaikan harga minyak saat ini masih lebih mencerminkan pemulihan teknikal setelah tekanan tajam sebelumnya. Arah pergerakan selanjutnya diperkirakan tetap bergantung pada hasil pembicaraan AS-Iran, kondisi keamanan di Selat Hormuz, serta keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak global. Untuk mendapatkan berita dan analisis pasar terbaru lainnya, kunjungi https://www.newsmaker.id.
