
Harga perak (XAG/USD) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (7/7), melanjutkan pelemahan selama dua sesi berturut-turut. Logam mulia tersebut diperdagangkan di kisaran US$60,70 per ounce, turun sekitar 2,21%.
Penurunan harga perak terjadi seiring meningkatnya sikap hati-hati investor menjelang publikasi risalah rapat Federal Reserve. Setelah mencatat penguatan pada pekan sebelumnya, sebagian pelaku pasar memilih mengambil keuntungan dan mengurangi eksposur terhadap aset logam mulia.
Tekanan tambahan datang dari kenaikan imbal hasil Treasury Amerika Serikat. Ketika yield obligasi meningkat, aset tanpa imbal hasil seperti perak dan emas cenderung kehilangan daya tarik. Selain itu, dolar AS masih berada dalam posisi kuat karena pasar memperkirakan The Fed belum akan segera melonggarkan kebijakan moneternya.
Meskipun data ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan adanya perlambatan secara bertahap, perkembangan tersebut dinilai belum cukup untuk mendorong perubahan besar dalam arah kebijakan bank sentral. Presiden The Fed New York, John Williams, menyebut kondisi pasar tenaga kerja masih relatif seimbang, sementara tingkat inflasi masih menjadi perhatian utama.
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar. Insiden yang melibatkan kapal komersial di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak.
Kenaikan harga energi berpotensi memperkuat kembali tekanan inflasi, sehingga dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga dan menjadi sentimen negatif bagi logam mulia. Saat ini, perhatian investor tertuju pada risalah rapat FOMC yang dijadwalkan rilis pada Rabu untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed dan prospek pergerakan harga perak selanjutnya.
