0 0
Read Time:1 Minute, 6 Second

Harga emas kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (8/7), bergerak di sekitar US$4.030 per ons. Level tersebut menjadi posisi terendah sejak 2 Juli setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai sementara dengan Iran telah berakhir.

Pernyataan tersebut memicu lonjakan harga minyak lebih dari 5% karena pasar kembali mengkhawatirkan potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Kenaikan harga minyak turut meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko inflasi yang kembali meningkat, sehingga membuka peluang suku bunga AS bertahan di level tinggi dalam waktu lebih lama.

Dalam pernyataannya saat menghadiri KTT NATO di Ankara, Trump menyebut dirinya tidak berminat untuk kembali melakukan pembicaraan dengan Iran. Ia juga memberikan peringatan bahwa Amerika Serikat berpotensi mengambil tindakan militer tambahan pada Rabu malam setelah hubungan kedua negara kembali memanas.

Dari perspektif pasar, tekanan terhadap emas muncul karena investor lebih mencermati dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi dan arah kebijakan Federal Reserve. Meski ketegangan geopolitik biasanya memberikan dukungan bagi aset safe haven seperti emas, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dapat membatasi kenaikannya karena emas tidak menghasilkan imbal hasil.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan masih terdapat kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve setidaknya satu kali hingga akhir 2026. Perkiraan tersebut membuat potensi penguatan emas tetap terbatas, terutama apabila dolar AS dan imbal hasil Treasury terus bertahan kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *