
Bursa saham Jepang berakhir di zona merah pada perdagangan Rabu (08/7), dipicu oleh pelemahan sejumlah sektor utama seperti kertas dan pulp, transportasi, serta komunikasi. Indeks Nikkei 225 ditutup turun 1,85% dalam perdagangan di Tokyo.
Di tengah tekanan pasar, beberapa saham masih mampu mencatatkan kenaikan. Saham Tokyo Electric Power menguat 3,81% menjadi 479,90. Mercari naik 3,39% ke level 4.665 sekaligus mencapai posisi tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, saham Inpex turut menguat 3,26% ke 3.388 seiring kenaikan harga minyak dunia.
Sebaliknya, sektor teknologi dan material menjadi sumber tekanan utama bagi indeks. Taiyo Yuden tercatat turun 8,50% ke 14.965, menjadi salah satu saham yang paling membebani pergerakan Nikkei. Hoya juga melemah 6,77% ke 23.910, sedangkan Mitsui Mining and Smelting turun 6,12% ke 33.730.
Sentimen negatif terlihat dari pergerakan mayoritas saham di Bursa Tokyo. Sebanyak 2.217 saham mengalami penurunan, sementara 1.299 saham menguat dan 226 saham bergerak stagnan. Meski indeks utama melemah, volatilitas pasar justru menurun, tercermin dari indeks volatilitas Nikkei yang turun 20,50% ke level 29,70.
Sementara itu, pasar komoditas mencatat pergerakan berlawanan. Harga minyak mentah mengalami penguatan signifikan, dengan kontrak WTI pengiriman Agustus naik 3,22% menjadi US$72,71 per barel. Harga Brent untuk pengiriman September juga meningkat 3,26% ke US$76,58 per barel.
Di sisi lain, harga emas berjangka Agustus melemah 0,63% menjadi US$4.131,20 per troy ounce akibat tekanan dari penguatan dolar dan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter.
Pada pasar valuta asing, USD/JPY naik 0,15% ke level 162,22, sementara EUR/JPY menguat 0,16% menjadi 185,29. Indeks dolar AS futures juga bergerak tipis lebih tinggi sebesar 0,01% ke 100,79.
Pergerakan pasar menunjukkan investor masih bersikap hati-hati terhadap aset berisiko, dengan kenaikan harga minyak dan sentimen global yang belum stabil menjadi faktor utama yang membebani bursa Jepang.
