
Harga emas kembali melemah pada perdagangan Senin (13/07) setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat sepanjang akhir pekan. Eskalasi tersebut mendorong harga energi bergerak lebih tinggi dan memunculkan kembali kekhawatiran terhadap prospek inflasi global. Kondisi ini membuat pasar kembali mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), terutama kemungkinan suku bunga bertahan di level tinggi dalam waktu yang lebih lama. Emas sempat turun hingga sekitar 1,4% mendekati US$4.060 per troy ounce. Pada pukul 08.40 waktu Singapura, emas spot tercatat melemah 1,2% menjadi US$4.068,91 per troy ounce.
Tekanan juga terlihat pada sejumlah logam mulia lainnya. Harga perak turun sekitar 1,8% menjadi US$58,82 per ounce, sementara platinum dan paladium turut mengalami pelemahan. Pergerakan pasar komoditas saat ini masih sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, harga energi, nilai tukar dolar AS, serta ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral. Untuk mendapatkan informasi mengenai profil perusahaan dan produk yang tersedia, kunjungi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya.
Salah satu perhatian utama pasar tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz. Iran menyatakan jalur strategis tersebut ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut, namun Amerika Serikat membantah klaim tersebut. CENTCOM menyampaikan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal yang melakukan pelayaran secara sah dan pasukan AS siap menjaga kebebasan navigasi di kawasan tersebut. Situasi ini membuat ketidakpastian geopolitik kembali meningkat, terutama karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting dalam distribusi energi global.
Ketegangan juga semakin meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap kapal Iran untuk keempat kalinya dalam sepekan, dengan Washington menuding Teheran melakukan serangan terhadap kapal kontainer. Eskalasi tersebut membuat pasar energi kembali menjadi perhatian. Gangguan yang berkepanjangan di sekitar Selat Hormuz berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi dan pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi. Untuk mengikuti berbagai update dan informasi terbaru dari Equityworld Futures Praxis, kamu juga dapat mengunjungi Instagram Equityworld Futures Praxis Official.
Bagi pasar emas, situasi ini menghadirkan kondisi yang cukup kompleks. Di satu sisi, meningkatnya risiko geopolitik biasanya mendorong investor mencari aset safe haven seperti emas. Namun di sisi lain, kenaikan harga minyak dapat memperbesar risiko inflasi. Jika tekanan inflasi kembali meningkat, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbasis bunga.
Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada data inflasi konsumen Amerika Serikat untuk bulan Juni serta penampilan pertama Kevin Warsh di hadapan Kongres sebagai Ketua The Fed. Apabila data inflasi menunjukkan angka lebih tinggi dari perkiraan atau Warsh memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut. Sebaliknya, meredanya ketegangan di Selat Hormuz dan pelemahan dolar AS dapat memberikan ruang bagi emas untuk kembali menemukan pijakan dan menguji area di atas US$4.100. Bagi yang ingin mencoba fitur trading secara langsung melalui akun demo, tersedia Demo Akun Trading Equityworld Futures. Informasi pasar lainnya juga dapat ditemukan melalui NewsMaker.id, sedangkan berbagai kanal media sosial perusahaan dapat diakses melalui Linktree Equityworld Futures Praxis.
