
Harga emas kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (13/7), seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik yang kembali memanas turut mendorong kenaikan harga minyak dan menimbulkan kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam waktu lebih lama. Pada sesi perdagangan Eropa, harga emas spot (XAU/USD) tercatat turun 1,54% menjadi US$4.057,76 per troy ounce, sementara emas berjangka melemah 1,17% ke US$4.065,45 per troy ounce.
Bukan hanya emas, sejumlah logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak tercatat turun sekitar 2,80%, sedangkan platinum melemah 1,61%. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar terhadap aset komoditas masih cukup berhati-hati di tengah perkembangan geopolitik dan prospek kebijakan moneter Amerika Serikat. Bagi investor dan trader, perubahan sentimen seperti ini menjadi salah satu faktor yang penting untuk terus dipantau. Untuk mendapatkan informasi dan update terbaru seputar aktivitas perusahaan serta media sosial kami, kunjungi Linktree Equityworld Futures Praxis.
Tekanan terhadap harga emas juga tidak terlepas dari perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran. Amerika Serikat kembali melakukan serangan terhadap sejumlah target di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal kargo berbendera Siprus di kawasan Selat Hormuz. Iran kemudian menyampaikan bahwa jalur pelayaran tersebut ditutup hingga waktu yang belum ditentukan, meskipun pernyataan tersebut mendapat bantahan dari pemerintah Amerika Serikat. Situasi ini kembali meningkatkan ketidakpastian mengenai keberlanjutan gencatan senjata dan proses menuju penyelesaian konflik.
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik tersebut, harga minyak masih bertahan lebih dari 3% di atas level sebelumnya setelah sempat mengalami lonjakan hampir 5%. Kenaikan harga energi menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan inflasi. Apabila inflasi kembali menguat, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan membuka kemungkinan pengetatan tambahan. Bagi emas, kondisi suku bunga tinggi cenderung menjadi sentimen negatif karena emas tidak menghasilkan imbal hasil seperti instrumen berbasis bunga. Bagi yang ingin mengenal lebih jauh profil perusahaan dan produk yang tersedia, informasi selengkapnya dapat dilihat melalui PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada sejumlah agenda ekonomi penting dari Amerika Serikat, terutama rilis data inflasi konsumen (CPI) dan testimoni Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan suku bunga tinggi akan dipertahankan, sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas. Sebaliknya, apabila inflasi menunjukkan tanda-tanda perlambatan, emas berpotensi kembali mendapatkan dukungan dan mencoba menguji area resistance di kisaran US$4.200–US$4.220 sebagai indikasi awal pemulihan.
Pergerakan harga emas tentu dapat berubah dengan cepat mengikuti perkembangan ekonomi, geopolitik, maupun kebijakan bank sentral. Karena itu, pemantauan berita dan analisis pasar menjadi bagian penting bagi trader dalam menentukan strategi. Untuk mencoba fitur trading melalui akun demo, kamu dapat mengakses Demo Akun Trading Equityworld Futures. Sementara itu, untuk memperoleh update dan informasi terbaru dari Equityworld Futures Praxis, kamu juga dapat mengikuti Instagram Equityworld Futures Praxis Official atau membaca berbagai informasi pasar melalui NewsMaker.id.
