0 0
Read Time:1 Minute, 43 Second

Harga minyak melonjak tajam pada perdagangan Rabu (29/7) setelah eskalasi serangan udara kembali meningkat di kawasan Timur Tengah. Harga Brent naik 6,8% menjadi US$89,79 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 6,2% ke US$84,20 per barel. Lonjakan tersebut mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik karena pasar kembali mengkhawatirkan potensi gangguan pasokan energi.

Tekanan terhadap pasar energi meningkat setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok yang didukung Iran di Irak. Serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap serangan drone yang menargetkan fasilitas minyak Arab Saudi. Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu infrastruktur energi di kawasan.

Untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai pergerakan harga minyak, emas, dan perkembangan pasar global lainnya, Anda dapat mengikuti berita terkini melalui Newsmaker.id.

Ketegangan semakin meningkat setelah militer Amerika Serikat menyatakan telah menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukan AS. Iran juga mengklaim telah menembaki kapal di Selat Hormuz serta pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania. Situasi tersebut kembali menempatkan Selat Hormuz dalam perhatian pasar karena jalur tersebut merupakan salah satu rute strategis bagi pengiriman energi dunia.

Ikuti pula berbagai update terbaru seputar pasar finansial dan aktivitas PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya melalui Instagram resmi EWF Praxis.

Harga minyak semakin menguat setelah Presiden Donald Trump menyatakan akan memberikan serangan balasan terhadap Iran. Pernyataan tersebut mengurangi harapan pasar terhadap penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dalam waktu dekat. Iran juga menolak usulan Oman terkait pengelolaan bersama Selat Hormuz. Di sisi lain, persediaan minyak mentah Amerika Serikat dilaporkan turun sekitar 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli, memberikan tambahan dukungan terhadap harga.

Ke depan, harga minyak berpotensi tetap berada pada level tinggi apabila serangan terus berlanjut dan lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz mengalami gangguan. Selain risiko geopolitik, rencana OPEC+ untuk menghentikan kenaikan produksi selama tiga bulan mulai Oktober dapat semakin memperketat keseimbangan pasokan global. Kombinasi gangguan pasokan dan pembatasan produksi tersebut berpotensi menjaga harga Brent dan WTI tetap volatil dalam perdagangan berikutnya. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai produk dan profil perusahaan, kunjungi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya.

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *