Equityworld Futures – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Minyak Dunia Koreksi, tapi Pasokan Global Terancam Defisit yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Konsekuensi dari konflik di Timur Tengah yang kembali memanas. Memicu Pasar masih mencerna proyeksi terbaru International Energy Agency (IEA) yang memperkirakan defisit pasokan minyak global akan semakin dalam.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di US$82,dua puluh per barel, terkoreksi satu,28% dari posisi sehari sebelumnya di US$83,27 per barel. Perkembangan ini menjadi perhatian banyak pihak..
Konsekuensi dari serangan kelompok Houthi, sementara ekspor Iran masih diblokade Amerika Serikat. Selain itu, pengiriman minyak Kazakhstan ikut terhambat. Memicu Gangguan, ditambah lagi dengan meluas ke Selat Bab el-Mandeb.
Selama jalur ekspor utama seperti Selat Hormuz belum kembali beroperasi normal, risiko gangguan pasokan diperkirakan tetap tinggi meski harga minyak sempat mengalami koreksi dalam jangka pendek..
IEA memperkirakan produksi minyak global tahun ini berada sekitar satu,27 juta bph di bawah permintaan.
Permintaan diperkirakan menyusut satu,enam juta bph sepanjang 2026, lebih dalam dibandingkan estimasi bulan sebelumnya sekitar satu juta bph.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, setelah gencatan senjata Amerika Serikat-Iran runtuh bulan lalu, serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz kembali terjadi.
Sebagaimana diberitakan, di sisi lain, WTI menguat sekitar delapan,lima% berbeda dengan Dibandingkan penutupan empat bulan Agustus, Brent telah naik sekitar sepuluh,delapan%,.
Sebagaimana diberitakan, lembaga tersebut memangkas proyeksi pasokan minyak global tahun 2026 menjadi 102,02 juta barel per hari (bph), atau turun empat,tiga juta bph dibandingkan tahun sebelumnya.
Penyebab utama memburuknya pasokan berasal dari terganggunya arus perdagangan minyak di Timur Tengah.
Namun, volume tersebut kembali turun menjadi sekitar dua belas juta bph menjelang akhir bulan.
Dalam perkembangannya, walaupun turun pada perdagangan hari ini, harga minyak masih berada jauh di atas level awal periode Agustus Situasi ini terus dipantau oleh otoritas terkait..
Mendahului konflik, meski lebih baik dibandingkan kehilangan produksi yang sempat mencapai empat belas juta bph pada puncak krisis., terjadi Produksi minyak kawasan itu masih berada delapan,tiga juta bph di bawah level.
Data terkini menunjukkan bahwa kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap menaruh perhatian utama pada perkembangan konflik di Timur Tengah.
Merujuk data Refinitiv pada pukul 09.55 WIB, harga minyak Brent berada di US$87,95 per barel, turun satu,enam belas% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$88,98 per barel.
Dalam perkembangannya, // .
Mendahului perang, terjadi IEA mencatat aktivitas pengapalan minyak dari Timur Tengah sempat pulih hingga sekitar dua puluh juta bph pada awal bulan Juli, mendekati kondisi.
Di sisi permintaan, IEA kembali merevisi turun proyeksi konsumsi minyak global.
Laporan bulanan IEA yang dirilis Rabu waktu London memperlihatkan kondisi pasar minyak semakin ketat.
Pada hari yang sama, OPEC, ditambah lagi dengan memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak tahun ini.
Jakarta, EWF Praxis βΒ Harga minyak dunia bergerak melemah tipis pada perdagangan Kamis pagi (tiga belas/delapan/2026), meski masih bertahan di level tinggi.
Prioritas diberikan pada Tidak hanya itu, terbatasnya pasokan produk kilang telah menekan konsumsi,, terutama Fokus utama pada nafta. Selain itu, gasoil, dengan pelemahan terbesar terjadi di Asia dan Timur Tengah., ditambah lagi dengan melengkapi Harga energi yang tinggi,.
Data terkini menunjukkan bahwa dalam kondisi terealisasi, kondisi ini menjadi defisit kuartalan terdalam, maka Bermula dari kuartal IV-2021., berlanjut dengan.
Meski demikian, pasar masih menghadapi tarik ulur proyeksi dari dua lembaga besar Hal tersebut disampaikan dalam keterangan resmi..
Pada kuartal III-2026, defisit pasar diproyeksikan mencapai satu,delapan juta bph, lebih besar satu juta bph dibandingkan estimasi bulan sebelumnya.
Data terkini menunjukkan bahwa pasca kembali pecahnya konflik di kawasan Teluk., kemudian Reli tersebut dipicu meningkatnya premi risiko pasokan.
Angka tersebut lebih dalam dibandingkan proyeksi bulan Juli lalu yang memperkirakan penurunan pasokan sebesar tiga,tujuh juta bph. Hal tersebut disampaikan dalam keterangan resmi..
Namun organisasi tersebut masih memperkirakan konsumsi global akan bertambah 580 ribu bph, lebih rendah 200 ribu bph dibandingkan perkiraan sebelumnya. Selain itu, berlawanan dengan pandangan IEA yang memperkirakan kontraksi permintaan..
Perkembangan terkait Minyak Dunia Koreksi, tapi Pasokan Global Terancam Defisit akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar.
Untuk informasi resmi kunjungi website kami di:
Berita Equity World Futures
Baca juga:
- Harga Emas Antam Melonjak Tajam, Tembus Rp 1,9 Juta per Gram!
- IHSG Sesi 1 Naik 0,65%, Asing Malah Kabur Bawa Rp 1,2 T
