Equityworld Futures – Berikut merupakan informasi terbaru terkait BI Klaim Likuiditas Pasar Uang Membaik, SRBI Susut dan IndONIA Turun yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyatakan secara makro kondisi likuiditas saat ini masih terkendali.
Dalam perkembangannya, ke depan, BI menegaskan akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial,. Selain itu, sistem pembayaran guna menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan likuiditas dan penyaluran kredit perbankan..
Sebaliknya, bank yang porsi kepemilikan surat berharganya di bawah sembilan belas%. Selain itu, aktif menyalurkan kredit akan memperoleh tambahan insentif sebesar dua%..
Tingkat suku acuan antarbank atau IndONIAΒ yang pernah mencapai level tertinggi enam,61% pada pada Juni, kini turun menjadi lima,91%,” kata Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (28/sembilan/2026)..
Dampak dari Selain itu, BI, ditambah lagi dengan secara bertahap menurunkan imbal hasil SRBI adalah mengurangi daya tarik instrumen tersebut. Selain itu, memberi ruang likuiditas lebih besar ke sektor keuangan..
Berdasarkan Destry, perbaikan kondisi likuiditas tidak terlepas dari kebijakan ekspansi likuiditas yang terus dilakukan BI.
Jakarta, EWF Praxis – Bank Nusantara (BI) memastikan kondisi likuiditas di pasar uang domestik masih terjaga di tengah ketidakpastian pasar keuangan global Perkembangan ini menjadi perhatian banyak pihak..
Sejalan dengan itu, outstanding SRBI, ditambah lagi dengan mengalami penurunan dari sebesar Rp1 .096 triliun menjadi sebesar Rp1 .013 triliun..
Sampai saat ini pembentukan modal asing yang masuk sudah mencapai US$enam miliar,” kata Destry..
Menurut pernyataan, “Dengan demikian mereka bisa memperoleh total insentif hingga enam% dari kebijakan KLM,” ujar Destry..
Seperti yang dikutip, “Dengan outstanding SRBI yang terus mengalami penurunan, ruang likuiditas di perekonomian menjadi semakin besar,” ujarnya..
Hingga minggu pertama periode September 2026, nilai insentif likuiditas makroprudensial (KLM) yang telah disalurkan mencapai nominal Rp461 triliun..
Dalam kebijakan tersebut, bank yang menempatkan lebih dari sembilan belas% dananya pada surat berharga seperti Surat Berharga Negara (SBN). Selain itu, SRBI tidak akan memperoleh insentif likuiditas tambahan selain insentif pembiayaan sebesar empat%..
BI, ditambah lagi dengan memperkuat ekspansi likuiditas melalui instrumen swap. Selain itu, repo Demikian informasi yang berhasil dihimpun..
Ia memaparkan, yield SRBI tenor dua belas bulan kini berada di kisaran enam,tujuh%, turun dibandingkan sebelumnya yang mencapai tujuh,tujuh%.
“Kalau kita lihat secara makro, likuiditas cukup terkendali.
Menurut sumber terpercaya, sepanjang tahun ini, tambahan likuiditas yang disalurkan melalui kedua instrumen tersebut telah mencapai senilai Rp387 triliun..
Dengan tujuan mendukung penyaluran kredit perbankan, dilakukan Selain itu, BI terus mengoptimalkan kebijakan likuiditas makroprudensial.
Dengan tujuan meningkatkan efektivitas penyaluran kredit, dilakukan Bank sentral, ditambah lagi dengan menerbitkan ketentuan baru Demikian informasi yang berhasil dihimpun..
Dengan tujuan meredam tekanan arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik, BI meluncurkan kebijakan insentif lindung nilai (hedging) melalui instrumen swap. Selain itu, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)., dilakukan Di sisi lain,.
Berbagai langkah pelonggaran likuiditas yang ditempuh bank sentral mulai menunjukkan hasil, tercermin dari turunnya tingkat suku acuan pasar uang antarbank (IndONIA) hingga berkurangnya outstanding Sekuritas Rupiah Bank Nusantara (SRBI)..
Dengan tujuan menempatkan modalnya di Nusantara., dilakukan Destry menyatakan insentif yang diberikan berada pada kisaran sepuluh%-30%. Selain itu, diharapkan dapat meningkatkan minat investor asing.
Dari hasil penelusuran, “Kami mengeluarkan kebijakan baru dalam bentuk insentif hedging baik melalui swap maupun DNDF.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, salah satu indikatornya terlihat dari pergerakan Nusantara Overnight Index Average (IndONIA) yang telah turun dari level puncaknya pada pada Juni lalu..
Perkembangan terkait BI Klaim Likuiditas Pasar Uang Membaik, SRBI Susut dan IndONIA Turun akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar.
Untuk informasi resmi kunjungi website kami di:
Berita Equity World Futures
Baca juga:
- Malaysia dan Filipina Buru-Buru Ikut Indonesia Reformasi Pasar Modal
- Purbaya Guyur Rp2 T Tiap Hari Bantu BI Selamatkan Rupiah
