Equityworld Futures – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Korupsi BNPB, Dana Darurat Bencana Diduga Buat Beli Saham Rp 30 Miliar yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Achmad Taufik membuka informasi, pembelian efek ekuitas MDLA dilakukan melalui PT AVE dengan kepemilikan mencapai 150,empat juta lembar atau setara dengan satu,07%. Demikian informasi yang berhasil dihimpun..
Menurut sumber terpercaya, rIC dalam hal ini disebut menerima uang dari Saudara GER selaku Direktur PT TLS (Trans Lintas Selaras) senilai senilai Rp2 ,38 miliar Hal tersebut disampaikan dalam keterangan resmi..
Dari hasil penelusuran, sebelumnya, KPK berhasil mengamankan lima belas orang pada OTT pada Selasa (tiga belas/sepuluh/2026) di Jakarta, dengan barang bukti senilai Rp lima,47 miliar, berbentuk mata uang asing, uang tunai, kepingan emas, tabungan emas, hingga aset kripto..
Berikut nama-nama yang telah dijadikan tersangka : Informasi ini diperoleh dari berbagai sumber terpercaya..
Dalam perkembangannya, dari hasil operasi itu KPK menetapkan lima orang tersangka, termasuk Bima Setiawan selaku Tenaga Ahli sekaligus adik dari eks Kepala BNPB Surhayanto.
Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan bahwa “Dalam penggunaan DSB tersebut, KPK menemukan adanya dugaan konflik kepentingan. Selain itu, indikasi suap.
Data terkini menunjukkan bahwa rIC (Rirchard Erlangga) selaku Tenaga Ahli Kepala BNPB saat itu.
Entitas bisnis penyedia itu diduga terafiliasi dengan Bima Setiawan (BMS)..
Tidak hanya itu, KPK, ditambah lagi dengan mengklasifikasi kasus pada klaster kedua, yaitu suap.
Dalam perkembangannya, berdasarkan Achmad Taufik, oknum di lingkungan BNPB, ditambah lagi dengan diduga menerima suap atas pengadaan yang menggunakan DSP..
Dengan tujuan kepentingan pribadi, termasuk pembelian efek ekuitas entitas bisnis PT Medela Potentia Tbk (MDLA)., dilakukan Achmad Taufik memaparkan dana yang mengalir ke entitas bisnis yang terafiliasi itu digunakan.
BMS (Bima Setiawan) selaku Tenaga Ahli Kepala BNPB sekaligus adik dari Eks Kepala BNPB.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, achmad Taufik memaparkan bahwa ada dua klaster dalam konstruksi perkara.
Sehingga atas penggunaan DSB berbasis RKK yang dimaksud justru diduga menguntungkan sejumlah pihak baik di BNPB atau pihak swasta,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (tujuh belas/sepuluh/2026)..
Dari hasil penelusuran, total nilai pengadaan mencapai sebesar Rp148 miliar, dengen rincian sebesar Rp45 ,76 miliar di tahun 2024, sebesar Rp52 ,27 miliar di tahun 2025,. Selain itu, sebesar Rp50 miliar di tahun 2026..
Dengan tujuan membeli efek ekuitas PT Medela Potentia Tbk (MDLA) senilai nominal Rp30 ,98 miliar., dilakukan Jakarta, EWF Praxis – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka informasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggunakan Dana Siap Pakai (DSP).
PT TLS dalam hal ini pihak swasta selaku vendor penyedia barang..
Seperti yang dikutip, “Jadi ada mensrea di sini kesepakatan-kesepakatan di awal ketika ada paket pengadaan yang akan dilakukan penunjukan langsung,” tambahnya. Hal tersebut disampaikan dalam keterangan resmi..
Berikut pernyataannya: “Ini kita ketahui dari pasar modal (pasar modal Efek Nusantara) itu bisa dilihat secara real time, dengan nilai efek ekuitas per tanggal tiga belas pada Oktober 2026 sebesar senilai Rp206 per lembar efek ekuitas atau setara senilai Rp30 ,98 miliar,” ungkapnya..
Sebagaimana diberitakan, pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein, kasus tindak pidana korupsi ini melibatkan Bima Setiawan selaku Tenaga Ahli BNPB sekaligus adik dari eks Kepala BNPB Surhayanto. Hal tersebut disampaikan dalam keterangan resmi..
Selain itu GPS, ditambah lagi dengan menerima uang tunai senilai Rp1 ,tujuh miliar, US$tujuh.500, SGD9.000, 56 Keping emas seberat Rp133 gram, tabungan emas 192 gram, yang berasal dari vendor penyedia pengadaan BNPB. Hal tersebut disampaikan dalam keterangan resmi..
KPK, ditambah lagi dengan menyebut pada periode sama Saudara GER memberikan uang kepada Saudara GPS selaku Kepala sekaligus PPK pada Subdirektorat Pengelolaan Bantuan. Selain itu, Dana Kedaruratan BNPB sebesar senilai Rp140 juta..
Menurut sumber terpercaya, disebutkan dalam keterangan, “Dalam proses pengadaan tahun 2026 saudara RIC selaku Tenaga Ahli Kepala BNPB diduga meminta fee kepada penyedia pihak vendor mendapat paket pengadaan yang dimaksud,” tuturnya. Informasi ini diperoleh dari berbagai sumber terpercaya..
Dalam hal ini, BNPB bermitra dengan sejumlah penyedia kebutuhan pengadaan melalui metode penunjukan langsung pada periode 2024 – 2026 Informasi ini diperoleh dari berbagai sumber terpercaya..
Data terkini menunjukkan bahwa gPS (Gabriel Purwaka Sigit) selaku Kepala sekaligus PPK pada Subdirektorat Pengelolaan Bantuan. Selain itu, Dana Kedaruratan BNPB.
Berikut pernyataannya: “Dari sejumlah penyedia tersebut diduga terafiliasi BMS,” kata Achmad Taufik..
Perkembangan terkait Korupsi BNPB, Dana Darurat Bencana Diduga Buat Beli Saham Rp 30 Miliar akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar.
Untuk informasi resmi kunjungi website kami di:
Berita Equity World Futures
Baca juga:
- CEO Perusahaan Bisa Lamar Jadi Ketua OJK, Harus Dapat Persetujuan RUPS
- Bos Danantara Ungkap Tak Ada IPO BUMN Tahun Ini
