
Equityworld Futures Surabaya Praxis – Mata uang Asia sebagian besar bergerak sedikit pada Jumat (08/09). Data ekonomi yang lemah dari Jepang menimbulkan kekhawatiran lanjutan atas perlambatan pertumbuhan ekonomi global, sementara yuan China turun ke level terendah lebih dari 15 tahun terakhir terhadap dolar dalam kekhawatiran baru atas hubungan China-AS.
Yuan turun 0,2% menjadi 7,3443, level terlemah terhadap dolar sejak Februari 2008. Mata uang ini dilanda gelombang tekanan jual minggu ini karena retorika yang memburuk dengan AS menambah kekhawatiran atas perlambatan ekonomi China.
Beijing dilaporkan melarang pejabat pemerintah tidak akan menggunakan iPhone Apple Inc (NASDAQ:AAPL) untuk urusan resmi dan langkah tersebut dilakukan di tengah seruan dari para pejabat AS untuk melarang ekspor teknologi ke China.
Langkah ini juga dilakukan saat data ekonomi dari China terus memberikan gambaran buram mengenai ekonomi terbesar kedua di dunia, yang meningkatkan kekhawatiran atas pemulihan pasca-COVID yang lambat di negara tersebut.
Dolar masih dekat high 6 bulan dalam kekhawatiran Fed
Data yang dirilis semalam menunjukkan klaim pengangguran AS tanpa diduga turun minggu lalu. Angkanya, ditambah dengan rilis yang kuat dari harga sektor jasa AS, menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja dan inflasi tetap tangguh.
Kedua faktor ini memberi Federal Reserve lebih banyak dorongan untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi, yang menunjukkan potensi pelemahan untuk pasar Asia. Bank sentral akan menggelar rapat bulan ini, dan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level tertinggi selama lebih dari 20 tahun.
Indeks dolar dan indeks dolar berjangka masing-masing turun sekitar 0,1% di perdagangan Asia, tetapi masih mendekati level tertinggi enam bulan di tengah meningkatnya kekhawatiran atas langkah hawkish the Fed. Treasury yields AS juga tetap tinggi minggu ini.
Hal ini pada gilirannya membebani sebagian besar mata uang Asia, sama halnya data ekonomi yang lemah dari Jepang.
Yen Jepang di low 10 bulan, PDB Q2 turun
Yen sedikit turun di atas level terendah 10 bulan pada hari Jumat, berada di bawah tekanan baru setelah pemerintah menurunkan estimasi pertumbuhan awal untuk produk domestik bruto kuartal kedua.
Revisi ini menunjukkan bahwa stimulus moneter yang berkelanjutan dari Bank of Japan tidak banyak memberikan dukungan kepada perekonomian Jepang seperti yang diperkirakan sebelumnya, terutama karena negara ini bergulat dengan pertumbuhan upah yang lamban dan melemahnya permintaan di pasar-pasar ekspor terbesarnya, terutama China.
Namun, petinggi BOJ sebagian besar menegaskan kembali perlunya kebijakan moneter yang lebih longgar dalam beberapa bulan mendatang, yang isyarat jadi lebih banyak tekanan pada yen karena kesenjangan antara suku bunga lokal dan AS melebar.
Pasar juga mengamati intervensi di pasar mata uang oleh pemerintah Jepang, menyusul warning yang terus datang terkait spekulasi terhadap yen.
Mata uang Asia yang lebih luas bergerak tipis, tetapi mengalami kerugian yang tajam untuk minggu ini. Rupee India naik 0,1% setelah mendekati rekor terendah, sementara won Korea Selatan yang sensitif terhadap suku bunga naik 0,1%, tetapi masih turun 1,2% untuk minggu ini.
Kegelisahan atas China menyeret dolar Australia turun 1% minggu ini, begitu juga efek keputusan Reserve Bank of Australia yang mempertahankan suku bunga.
Sumber: Investing.com
