0 0
Read Time:2 Minute, 22 Second

Harga emas kembali mencoba bangkit pada awal perdagangan hari ini setelah mengalami kejatuhan selama empat hari berturut-turut. Sebelumnya, harga emas tergelincir akibat risalah rapat bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) yang menandakan ketidakpastian mengenai awal penurunan suku bunga.

Pada perdagangan Rabu (3/1/2024), harga emas di pasar spot ditutup melemah 0,91% atau hampir 1%, berada di posisi US$2040,19 per troy ons. Pelemahan ini memperpanjang penurunan harga emas sejak 28 Desember 2023, dengan total penurunan mencapai 1,8% dalam empat hari perdagangan.

Namun, hingga pukul 06:19 WIB pada Kamis (4/1/2024), harga emas di pasar spot bergerak lebih tinggi, naik 0,08% ke posisi US$2042,58 per troy ons.

Penurunan harga emas pada Rabu terjadi setelah risalah pertemuan kebijakan terbaru The Fed mengindikasikan ketidakpastian mengenai waktu potensi penurunan suku bunga. Risalah tersebut dirilis pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Para pejabat The Fed semakin yakin bahwa inflasi telah terkendali, dengan berkurangnya “risiko kenaikan” dan meningkatnya kekhawatiran bahwa kebijakan moneter yang “terlalu ketat” dapat merusak perekonomian.

Namun, The Fed belum menjelaskan kapan pemangkasan suku bunga akan dilakukan.

“‘Bertahanlah’ adalah pesan yang datang dari risalah rapat The Fed bulan Desember. Meskipun kita telah melihat siklus tertinggi, penurunan suku bunga akan membutuhkan lebih banyak waktu, terutama dengan kondisi keuangan yang membaik dan ketidakpastian yang tinggi,” ujar Tai Wong, analis dan pedagang logam independen berbasis di New York, dilansir dari Reuters.

Risalah tersebut menunjukkan bahwa para peserta mencatat “tingkat ketidakpastian yang luar biasa tinggi” mengenai prospek penurunan suku bunga, dan kenaikan suku bunga lebih lanjut masih mungkin terjadi jika inflasi memburuk.

Investor saat ini memperkirakan kemungkinan sebesar 70% bahwa The Fed akan menurunkan suku bunganya mulai dari pertemuannya pada Maret, sementara para ekonom memprediksi bahwa The Fed akan menundanya hingga mendekati pertengahan tahun.

Indeks dolar menguat ke level 102,48 pada perdagangan Rabu (3/1/2024), naik dari 102,2 pada perdagangan sebelumnya. Kondisi ini membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Investor kini menantikan serangkaian data ekonomi AS pada minggu ini, termasuk laporan non-farm payrolls yang akan dirilis pada hari Jumat.

Pasar juga memantau perkembangan di Timur Tengah setelah konflik Israel-Hamas mencapai Lebanon dengan terbunuhnya wakil pemimpin Hamas di Beirut.

Harga emas sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga AS. Kenaikan suku bunga AS akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury menguat. Kondisi ini tidak menguntungkan emas karena dolar yang menguat membuat emas sulit dibeli sehingga permintaan turun. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik.

Namun, suku bunga yang lebih rendah akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury melemah, sehingga dapat menurunkan opportunity cost memegang emas. Dengan demikian, emas menjadi lebih menarik untuk dikoleksi.

Jangan lupa untuk cek dan coba layanan trading kami di demo ewf

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *