Harga minyak kembali turun pada Kamis (6/11) setelah investor mencermati ancaman kelebihan pasokan serta tanda-tanda melemahnya permintaan di Amerika Serikat, konsumen minyak terbesar dunia. Brent ditutup turun 0,22% ke $63,38, sementara WTI melemah 0,29% ke $59,43. Penurunan ini melanjutkan tren pelemahan harga minyak secara global yang sudah berlangsung tiga bulan berturut-turut.
π Ikuti update pasar energi & komoditas di Instagram kami:
Equityworld Praxis Official
Kekhawatiran surplus pasokan kembali mencuat seiring peningkatan produksi dari OPEC+ serta pertumbuhan output negara-negara non-OPEC. Analis Again Capital, John Kilduff, bahkan menyebut kondisi ini sebagai salah satu ancaman kelebihan pasokan terbesar yang pernah terbuka di pasar minyak. Situasi tersebut membuat tekanan downward pada harga semakin sulit dihindari.
π Kenali layanan, produk, dan profil lengkap perusahaan kami di:
Equityworld Futures Praxis Surabaya
Namun, selain faktor suplai, fokus pasar kini semakin tertuju pada lemahnya permintaan. Data hingga 4 November menunjukkan permintaan global hanya naik 850.000 barel per hari, lebih rendah dari proyeksi awal JPMorgan sebesar 900.000 bph. Aktivitas perjalanan yang datar serta turunnya pengiriman kontainer membuat konsumsi minyak AS terlihat semakin lesu.
π Cek semua kanal resmi dan sosial media perusahaan melalui Linktree:
linktr.ee/ewfprx
Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak juga tertekan setelah Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan kenaikan stok minyak mentah sebesar 5,2 juta barel, mencapai total 421,2 juta barel. Menurut Kilduff, rendahnya aktivitas kilang karena musim perawatan menjadi sinyal jelas bahwa permintaan minyak mentah di AS sedang tidak kuatβdan ini menjadi faktor fundamental yang menekan harga.
π Ikuti berita ekonomi & energi terbaru di portal resmi kami:
Newsmaker EWF
Dari sisi produsen besar dunia, Arab Saudi memangkas harga jual resminya untuk pasar Asia pada Desember sebagai respons atas kondisi pasokan yang berlimpah. Capital Economics memproyeksikan tekanan bearish akan tetap dominan pada harga minyak, bahkan memperkirakan Brent dapat berada di bawah $60 per barel pada akhir 2025 dan sekitar $50 per barel pada 2026. Meski demikian, sanksi baru terhadap perusahaan minyak terbesar Rusia dua pekan lalu masih membatasi pelemahan harga, karena menimbulkan potensi gangguan pasokan di beberapa wilayah.
π Ingin mencoba trading tanpa risiko? Gunakan akun demo gratis:
Akun Demo Trading EWF
