Harga Minyak Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Perdamaian Ukraina dan Memanasnya Ketegangan AS–Venezuela
Harga minyak mencatat kenaikan tipis ketika para investor menilai ketidakpastian dalam perkembangan gencatan senjata Ukraina serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela. Brent diperdagangkan di sekitar $63 per barel setelah naik 0,4% pada Rabu, sementara pembicaraan damai terbaru masih menunjukkan jalan panjang menuju kesepakatan.
Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai layanan perdagangan komoditas, kamu dapat mengunjungi website resmi kami: PT Equityworld Futures Praxis Surabaya.
Putaran negosiasi baru antara Ukraina dan Rusia dijadwalkan berlangsung di Florida, namun pernyataan Presiden Vladimir Putin bahwa beberapa poin dalam rencana perdamaian yang didukung AS “tidak dapat diterima” menandakan bahwa peluang kesepakatan masih jauh. Analis RBC Capital Markets juga menilai tidak ada terobosan berarti dari pertemuan tingkat tinggi Amerika–Rusia, sehingga harapan penyelesaian konflik dalam waktu dekat masih rendah.
Untuk mengikuti update geopolitik dan analisis pasar harian, kamu bisa mampir ke kanal sosial media kami melalui Linktree EWF Praxis.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump kembali menegaskan rencana AS untuk melancarkan serangan terhadap kartel narkoba di wilayah Venezuela. Penumpukan pasukan Amerika di sekitar kawasan tersebut menambah risiko geopolitik yang dapat memberikan “risk premium” pada harga minyak. Kondisi ini sebagian mengimbangi kekhawatiran pasar terkait potensi surplus minyak global yang diproyeksikan mencapai rekor tertinggi tahun depan.
Jika kamu ingin merasakan pengalaman trading secara langsung, silakan mencoba akun demo resmi kami.
Secara keseluruhan, minyak masih menuju kerugian tahunan seiring OPEC+ meningkatkan kembali produksi yang sebelumnya ditahan, ditambah kenaikan suplai dari produsen lain. Minat pembelian dari Tiongkok sempat menopang harga di awal tahun, namun menurut CEO Hengli Petrochemical International Janet Hong, permintaan dari Tiongkok kemungkinan tetap lemah hingga pertengahan 2026.
Untuk berita dan analisis pasar energi lainnya, kamu bisa membaca update terbaru di Newsmaker ID.
Chief Economist Trafigura, Saad Rahim, menilai pasar masih menghadapi situasi kelebihan pasokan yang signifikan. Ia menyatakan bahwa dengan suplai yang melimpah, peluang harga untuk terus melemah lebih besar dibandingkan naik. Pada Rabu pagi waktu New York, Brent untuk pengiriman Februari naik 0.6% menjadi $63.05 per barel, sementara WTI untuk pengiriman Januari menguat 0.7% menjadi $59.38 per barel.
Untuk update cepat dan komunikasi langsung, kamu juga bisa mengikuti Instagram kami: equityworld_praxis.official.
