0 0
Read Time:2 Minute, 3 Second

Harga Minyak Stabil di Awal 2026, Pasar Menanti OPEC+ dan Dinamika Geopolitik

 

Harga minyak bergerak relatif stabil pada hari perdagangan pertama 2026, setelah mencatat penurunan tahunan terdalam sejak 2020. Pelaku pasar kini menimbang dua faktor utama yang memengaruhi arah harga, yakni agenda pertemuan OPEC+ serta meningkatnya kembali risiko geopolitik global.

 

Minyak acuan Amerika Serikat WTI bertahan di atas US$57 per barel setelah sempat melemah jelang libur Tahun Baru, sementara Brent sebagai acuan global ditutup di bawah US$61 per barel. Pergerakan ini mencerminkan sikap pasar yang masih berhati-hati, menyusul tekanan berat yang mendominasi sepanjang 2025.

πŸ“Š Untuk mengikuti perkembangan pasar energi dan update harian, kamu bisa mengecek kanal resmi kami melalui Linktree Equityworld Futures Praxis.

 

Perhatian utama investor tertuju pada pertemuan OPEC+ pada 4 Januari yang digelar secara virtual. Anggota kunci seperti Arab Saudi dan Rusia diperkirakan tetap berpegang pada keputusan November lalu, yakni menahan sementara rencana peningkatan pasokan. Sikap ini dinilai penting untuk menahan tekanan lebih lanjut di tengah kekhawatiran pasar terhadap kelebihan suplai global.

 

Dari sisi geopolitik, pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan meningkatkan tekanan terhadap ekspor minyak Venezuela. Langkah ini dilakukan melalui sanksi terhadap perusahaan di Hong Kong dan China daratan, termasuk kapal-kapal yang dituding berupaya menghindari pembatasan. Situasi tersebut menambah lapisan risiko baru pada pasokan energi global.

πŸ›’οΈ Ingin mencoba simulasi trading minyak di tengah volatilitas pasar? Gunakan akun demo trading untuk memahami pergerakan harga tanpa risiko.

 

Ketegangan juga meningkat dari konflik Rusia–Ukraina, di mana kedua pihak saling menyerang pelabuhan di kawasan Laut Hitam selama periode Tahun Baru. Serangan tersebut dilaporkan merusak infrastruktur penting, termasuk kilang, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dan distribusi energi.

 

Meski faktor geopolitik berpotensi menopang harga dalam jangka pendek, pasar masih dibayangi isu surplus pasokan global. Sepanjang tahun lalu, harga minyak turun sekitar 20% akibat kekhawatiran kelebihan suplai setelah OPEC+ sempat menaikkan produksi dan output dari produsen lain ikut meningkat. IEA bahkan memperkirakan surplus sekitar 3,8 juta barel per hari tahun ini.

 

Menurut analis Robert Rennie (Westpac), tensi geopolitik bisa memberi dukungan sementara bagi harga minyak. Namun, pada kuartal pertama 2026 harga berpotensi tetap tertekan karena kelebihan pasokan dan peluang kemajuan negosiasi damai Ukraina. Pada perdagangan pagi di Singapura, WTI Februari berada di kisaran US$57,45, sementara Brent Maret turun 0,8% ke US$60,85.

πŸ”Ž Untuk mengenal lebih jauh produk dan layanan perdagangan berjangka, kunjungi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya serta baca berita dan analisis pasar terbaru di Newsmaker.id.

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *