0 0
Read Time:1 Minute, 45 Second

Harga Emas Cetak Rekor Baru, Dekati Level Psikologis USD 5.000 per Ounce

 

Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi dan kini bergerak sangat dekat dengan level psikologis USD 5.000 per troy ounce. Kenaikan ini tidak semata didorong oleh permintaan aset aman (safe haven), tetapi juga oleh pergeseran strategi investor yang mulai mengurangi eksposur terhadap aset yang dinilai rentan, seperti mata uang dan obligasi pemerintah.

 

Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga emas sempat melonjak menembus USD 4.960 per ounce pada awal perdagangan dan berpotensi membukukan kenaikan mingguan lebih dari 7%. Pergerakan serupa juga terlihat pada perak, yang ikut menyentuh rekor tertinggi baru, menandakan meningkatnya minat investor terhadap logam mulia.

 

Salah satu pendorong utama reli emas adalah melemahnya dolar AS. Ketika dolar melemah, harga emas menjadi lebih murah bagi pembeli di luar Amerika Serikat, yang biasanya mendorong peningkatan permintaan dan mempercepat kenaikan harga.

 

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh meningkatnya headline risk, mulai dari isu geopolitik seperti Venezuela, Iran, dan Greenland, hingga kekhawatiran pasar terkait independensi bank sentral AS (Federal Reserve). Reuters melaporkan bahwa independensi The Fed kembali menjadi sorotan setelah Mahkamah Agung AS menunjukkan sikap skeptis terhadap langkah-langkah yang berpotensi mengganggu posisi pejabat bank sentral.

 

Dari sisi kebijakan moneter, pasar kini menantikan pilihan Presiden Donald Trump untuk Ketua The Fed berikutnya. Trump menyatakan bahwa proses wawancara kandidat telah selesai dan pengumuman akan segera dilakukan. Jika sosok yang dipilih dinilai lebih dovish, pasar bisa semakin agresif dalam memperkirakan skenario penurunan suku bungaβ€”kondisi yang umumnya mendukung harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.

 

Narasi bullish semakin menguat setelah Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga emas akhir 2026 menjadi USD 5.400 per ounce, dari sebelumnya USD 4.900. Kenaikan proyeksi ini didasarkan pada meningkatnya permintaan dari investor swasta dan bank sentral, di tengah ketidakpastian kebijakan global yang masih tinggi.

 

Meski demikian, risiko koreksi tetap terbuka apabila ketegangan global mereda dan dolar AS kembali menguat. Oleh karena itu, pergerakan harga emas ke depan akan sangat sensitif terhadap perkembangan data ekonomi AS dan berbagai headline kebijakan dari Washington. (az)

 

Sumber: Newsmaker.id

 

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *