Harga Minyak Global Stabil di Tengah Meredanya Isu Greenland
Harga minyak mentah global cenderung stabil pada perdagangan terbaru, meskipun sebelumnya sempat berfluktuasi tajam akibat ketegangan geopolitik terkait isu Greenland. Redanya ketegangan tersebut membuat perhatian pasar kembali tertuju pada kondisi pasokan dan permintaan global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menahan diri untuk tidak mengancam penerapan tarif besar terhadap negara-negara Eropa terkait isu pembelian Greenland. Langkah ini diambil setelah tercapainya sebuah kerangka kesepakatan awal, yang dinilai cukup untuk meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi konflik dagang.
Pelaku pasar kini memantau dengan cermat proyeksi pasokan dan permintaan dari lembaga energi internasional. International Energy Agency (IEA) masih memperkirakan bahwa pasokan minyak global berpotensi melebihi permintaan pada 2026, meskipun pertumbuhan permintaan diperkirakan sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Di pasar berjangka, minyak mentah acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) dan minyak Brent Eropa bergerak dalam kisaran moderat tanpa lonjakan harga yang signifikan. Reli harga yang sebelumnya dipicu oleh ketegangan geopolitik kini mulai mereda seiring dengan kejelasan arah kebijakan AS dan sinyal kompromi dengan Eropa.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan pasokan dari sejumlah wilayah produsen. Produksi minyak di Kazakhstan serta potensi kembalinya pasokan dari Venezuela menjadi sorotan, mengingat dampaknya terhadap volume minyak yang masuk ke pasar global.
Dengan stok minyak yang terus dipantau dan ketegangan geopolitik yang relatif mereda, banyak analis memperkirakan harga minyak akan bergerak stabil dalam jangka pendek. Namun demikian, pasar tetap rentan terhadap fluktuasi cepat apabila terjadi gangguan pasokan atau muncul kebijakan perdagangan baru yang berpotensi mengguncang sentimen investor. (az)
