Emas Bangkit, Pangkas Kerugian Usai Koreksi Tajam
Harga emas kembali menguat dan memangkas sebagian kerugian, setelah reli besar sebelumnya tiba-tiba patah dan memicu aksi jual tajam. Perak juga ikut menguat, menjadi sinyal bahwa pasar mulai menenangkan diri setelah beberapa sesi yang sangat bergejolak.
Dalam perdagangan terbaru, emas spot naik sekitar 2,9% mendekati US$4.800 per ons, sementara perak melonjak sekitar 5% dan sempat menembus US$83. Rebound ini terjadi setelah emas jatuh hampir 5% pada sesi sebelumnya dan mencatat penurunan tajam selama dua hari berturut-turut.
Sebelumnya, logam mulia sempat mencetak rekor tertinggi bulan lalu seiring investor memburu aset aman. Kekhawatiran geopolitik, narasi currency debasement, serta isu independensi bank sentral menjadi bahan bakar utama reli. Namun, laju kenaikan yang terlalu cepat membuat posisi pasar terlalu padat (overcrowded). Ketika dolar AS menguat, aksi ambil untung dan likuidasi posisi memperparah koreksi.
Salah satu kunci arah selanjutnya adalah respons investor China—apakah mereka memilih strategi buy the dip. Laporan menunjukkan lonjakan pembeli di bursa emas terbesar Shenzhen, dengan masyarakat berburu perhiasan dan emas batangan menjelang Tahun Baru Imlek. Pasar domestik China sendiri akan tutup lebih dari satu minggu mulai 16 Februari, yang berpotensi memengaruhi likuiditas dan volatilitas jangka pendek.
Dari sisi proyeksi bank, sejumlah institusi masih optimistis. Deutsche Bank AG tetap menilai emas berpotensi mencapai US$6.000 per ons pada 2026, sementara JP Morgan bahkan memproyeksikan hingga US$6.300 per ons pada akhir 2026, dengan alasan permintaan investor dan bank sentral yang tetap kuat meski volatilitas meningkat.
Sementara itu, dolar AS melemah tipis setelah sempat menguat singkat—kondisi yang biasanya memberi ruang bernapas bagi komoditas berdenominasi dolar. Di Asia, harga emas dilaporkan berada di kisaran US$4.778 per ons pada pagi hari waktu Singapura, sedangkan perak di sekitar US$82–83. Platinum dan palladium juga tercatat ikut menguat.
Secara keseluruhan, pergerakan ini lebih mencerminkan “pembersihan posisi” ketimbang perubahan fundamental. Arah selanjutnya kemungkinan ditentukan oleh tiga faktor utama: kekuatan dolar AS, keputusan pelaku pasar—terutama dari China—untuk membeli saat harga turun, serta apakah volatilitas mereda menjelang libur Imlek.
