Setelah Naik 16%, Harga Minyak Mendadak Anjlok
Harga minyak turun tajam setelah mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak 2022. Pasar yang sebelumnya “ngebut” karena ketegangan geopolitik kini mendadak menginjak rem, seiring pelaku pasar mulai menilai risiko gangguan pasokan tidak sedekat yang sebelumnya dikhawatirkan.
Minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$68 per barel setelah melonjak sekitar 16% sepanjang bulan lalu, sementara WTI bertahan di atas US$63 per barel. Pelemahan ini terjadi ketika investor memantau langkah lanjutan Donald Trump terkait Timur Tengah, serta perkembangan diplomasi di Eropa Timur.
Dari sisi geopolitik, nada pasar berubah setelah Trump meredakan tensi, dengan mengecilkan ancaman perang regional yang sempat disuarakan oleh Ayatollah Ali Khamenei, sekaligus menegaskan kembali harapannya agar kesepakatan dengan Iran masih bisa dicapai. Sikap yang lebih lunak ini mendorong pasar untuk menghapus sebagian risk premium yang sebelumnya melekat pada harga minyak.
Menurut Haris Khurshid dari Karobaar Capital LP, penurunan ini lebih mencerminkan “reset repositioning” ketimbang perubahan fundamental. Logikanya sederhana: tanpa guncangan pasokan baru, premi risiko yang sempat dipasang pasar otomatis dilepas karena skenario gangguan pasokan tidak terwujud.
Perhatian pasar juga mulai beralih ke jalur diplomasi. Pertemuan trilateral AS–Rusia–Ukraina dijadwalkan berlangsung pada 4–5 Februari di Abu Dhabi, menurut pernyataan Volodymyr Zelenskiy. Meski begitu, terobosan signifikan masih minim, dan perang yang mendekati tahun kelima tetap menjadi faktor penting—terutama karena sanksi terhadap perdagangan minyak Rusia belum sepenuhnya hilang dari radar.
Sebelumnya, reli harga minyak berlangsung selama beberapa pekan akibat eskalasi yang membuat Iran dan AS berada di ambang benturan, khususnya setelah ancaman Trump pada Januari. Ketegangan ini memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan dari kawasan yang menyumbang sekitar sepertiga produksi minyak global—meskipun di sisi lain, pasar juga dihadapkan pada narasi potensi surplus pasokan global.
Di luar geopolitik, sentimen juga dipengaruhi oleh keputusan OPEC+ untuk mempertahankan rencana produksi tetap pada Maret—bagian terakhir dari “freeze” tiga bulan—meski harga sempat melonjak tajam. Trader juga mencatat koreksi tajam di logam mulia (emas dan perak), yang ikut mendorong pasar masuk ke mode “recalibration of risk.”
Pada pukul 08.07 waktu Singapura, Brent turun sekitar 2,4% ke US$67,64 per barel, sementara WTI melemah 2,6% ke US$63,54 per barel—menandakan pasar mulai melepas premi risiko dan kembali menghitung ulang fundamental.
Sumber: Newsmaker.id
