Harga minyak naik untuk hari kedua berturut-turut seiring kembali memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pemicunya adalah laporan bahwa AS menembak jatuh sebuah drone Iran di dekat kapal induk Amerika di Laut Arab—peristiwa yang langsung membuat pasar siaga.
Kontrak West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati US$64 per barel, setelah melonjak 1,7% pada perdagangan Selasa. Sementara itu, Brent Crude ditutup di atas US$67 per barel, menandakan sentimen pasar mulai bergeser ke arah risk-on.
Meski sempat menimbulkan “kejutan” di pasar, ketegangan tersebut belum berkembang menjadi eskalasi besar. Donald Trump menegaskan bahwa jalur diplomasi masih berjalan. Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt juga mengonfirmasi bahwa pembicaraan AS–Iran tetap dijadwalkan berlangsung pada Jumat.
Dari sisi fundamental, pasar juga mendapat dorongan tambahan. Persediaan minyak mentah AS dilaporkan turun tajam. American Petroleum Institute (API) mencatat stok minyak AS menyusut 11,1 juta barel pekan lalu. Jika dikonfirmasi oleh data resmi, penurunan ini akan menjadi yang terbesar sejak Juni.
Kekhawatiran terhadap potensi konflik di Timur Tengah—wilayah yang menyumbang sekitar sepertiga pasokan minyak dunia—telah menopang harga minyak sejak bulan lalu, meskipun terdapat indikasi kelebihan pasokan global. Harga minyak juga sempat tertekan oleh volatilitas komoditas, yang sebelumnya menyeret emas dan perak turun, sebelum keduanya kembali menguat pada sesi Selasa.
Pada perdagangan awal di Singapura, WTI kontrak Maret naik 0,9% ke US$63,80 per barel (pukul 07.22 waktu setempat). Sementara itu, Brent kontrak April ditutup menguat 1,6% di US$67,33 per barel. Pasar kini menanti apakah kenaikan ini hanya bersifat sementara, atau menjadi awal dari fase baru pergerakan harga minyak.
Sumber: Newsmaker.id
