Equityworld Futures – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Rupiah Terkoreksi di Pembukaan, Dolar AS Naik Rp16.850 yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Jakarta, CNBC IndonesiaΒ β Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (6/2/2026)..
Moody’s juga menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan telah melemahkan kepercayaan investor, tercermin dari volatilitas pasar saham. Selain itu, nilai tukar..
Dolar AS juga masih mendapat dukungan setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve pekan lalu..
Kondisi ini pada gilirannya dapat menambah tekanan pada mata uang lain, termasuk rupiah..
Merujuk data Refinitiv, rupiah pagi ini berada di level Rp16.850/US$ atau terdepresiasi 0,15%.
Pertama, penguatan DXY mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar pada aset berdenominasi dolar AS.
Inflasi tercatat 2,92%. Selain itu, berada dalam sasaran, sementara stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui kebijakan Bank Indonesia.
Perry menyampaikan pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2025 mencapai 5,39% sehingga secara keseluruhan 2025 tumbuh 5,1%.
Sentimen kehati-hatian ini terjadi meski imbal hasil US Treasury cenderung menurun setelah sejumlah data mengarah pada pasar tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan menjelang rilis payrolls Januari pekan depan..
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau kembali berada di zona hijau dengan penguatan 0,04% ke level 97,865 sekaligus memperpanjang tren penguatannya..
Pelemahan ini melanjutkan tren dari perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup turun 0,36% ke posisi Rp16.825/US$, yang menjadi level terlemah rupiah dalam dua pekan terakhir..
Di saat bersamaan, meningkatnya sikap risk-off turut menopang dolar, seiring tekanan di pasar saham khususnya saham teknologi di tengah kekhawatiran belanja besar pada kecerdasan buatan (AI). Selain itu, dampaknya terhadap berbagai sektor..
// .
Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Kamis (5/2/2026).
Pasar menilai Warsh berpotensi tidak terlalu mendorong pemangkasan suku bunga agresif, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran terhadap independensi bank sentral.
Penyesuaian ini didorong penilaian Moody’s atas menurunnya kepastian. Selain itu, prediktabilitas kebijakan, khususnya dari sisi tata kelola, yang dinilai berpotensi menekan kredibilitas kebijakan dan kinerja ekonomi jika berlanjut..
Menanggapi hal tersebut, mengacu pada publikasi Bank Indonesia, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional..
Selain itu, sentimen dari lembaga pemeringkat juga menjadi sorotan.
Stabilitas sistem keuangan juga terjaga, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang rendah..
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi sejumlah sentimen, terutama dari eksternal.
Perkembangan terkait Rupiah Terkoreksi di Pembukaan, Dolar AS Naik Rp16.850 akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Sumber asli: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260206081831-17-708696/rupiah-terkoreksi-di-pembukaan-dolar-as-naik-rp16850
Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar.
Untuk informasi resmi kunjungi website kami di:
Berita Equity World Futures
Baca juga:
- Tantangan Ekonomi 2023: Ekonomi Indonesia Berjuang di Tengah Perlambatan Global
- Harga Perak Turun ke $31,00 per Ons, Kekhawatiran Geopolitik Mereda
