0 0
Read Time:1 Minute, 55 Second

Harga emas kembali menguat pada perdagangan Jumat (20/2) dan semakin menjauh dari level psikologis US$5.000 per ons. Kontrak berjangka emas tercatat naik sekitar 0,9% atau US$43 menjadi US$5.040 per ons, memperlihatkan bahwa minat investor terhadap aset safe haven masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global.

Meski berhasil kembali menguat, performa emas secara mingguan masih belum sepenuhnya stabil. Sepanjang pekan ini, harga emas tercatat masih mengalami penurunan tipis sekitar US$9,50 dan berpotensi memutus tren penguatan dua pekan berturut-turut. Jika hal tersebut terjadi, maka pelemahan mingguan kali ini akan menjadi yang terbesar sejak akhir Januari lalu ketika emas sempat terkoreksi tajam. Ikuti perkembangan market dan berita ekonomi terbaru melalui Newsmaker Indonesia.

Sementara itu, perak justru menunjukkan performa yang lebih solid dibanding emas. Harga perak melonjak sekitar 3,7% ke level US$80,52 per ons dan secara mingguan mencatat kenaikan hampir 3%. Penguatan tersebut memperpanjang tren positif perak dalam dua pekan terakhir dan menjadi salah satu performa terbaik sejak Januari.

Analis Commerzbank, Thu Lan Nguyen, menilai bahwa ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor utama yang menopang harga logam mulia. Pasar juga terus mencermati laporan terkait kemungkinan langkah militer terbatas dari AS untuk menekan Iran dalam negosiasi nuklir. Kondisi ini membuat permintaan aset safe haven tetap bertahan tinggi di tengah meningkatnya risiko global. Untuk update market harian dan edukasi trading lainnya, cek juga Instagram Equityworld Praxis Official.

Selain isu Timur Tengah, pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina juga belum menunjukkan perkembangan signifikan. Ketidakpastian tersebut menjaga minat investor terhadap aset lindung nilai seperti emas dan perak. Meski begitu, sebagian analis menilai pasar emas masih membutuhkan fase konsolidasi sebelum mampu melanjutkan reli yang lebih besar dalam jangka pendek.

Analis Trade Nation, David Morrison, menyebut harga emas kemungkinan masih akan bergerak dalam pola konsolidasi untuk menstabilkan indikator momentum pasar. Ia juga menilai area puncak sebelumnya berpotensi menjadi resistance sementara bagi emas, terlebih aktivitas perdagangan di pasar Asia masih relatif lebih sepi karena libur Tahun Baru Imlek.

Secara keseluruhan, pasar logam mulia saat ini masih dipengaruhi kombinasi sentimen geopolitik, arah kebijakan suku bunga The Fed, dan kondisi pasar global yang belum stabil. Bagi Anda yang ingin mempelajari peluang trading emas dan komoditas lainnya, silakan kunjungi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya serta coba simulasi trading melalui Demo Trading EWF.

About Post Author

IT Sby Praxis

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *