Harga minyak bergerak menguat tipis dan bertahan di atas level US$71 per barel seiring pelaku pasar mencermati peluang tercapainya kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran menjelang pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung Kamis di Jenewa. Di sisi lain, pengerahan besar-besaran kekuatan militer AS di Timur Tengah membuat pasar energi tetap berada dalam kondisi waspada tinggi.
Minyak Brent tercatat naik tipis setelah sebelumnya ditutup melemah sekitar 1% pada sesi perdagangan sebelumnya. Sentimen pasar kembali memanas setelah Presiden Donald Trump dalam pidato kenegaraannya menyebut Iran tengah berupaya membangun kembali program nuklirnya. Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa Washington mungkin sedang mempersiapkan langkah militer apabila negosiasi diplomatik gagal mencapai hasil.
Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Pernyataan tersebut memperkuat ketegangan geopolitik di pasar energi global, terutama karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar dunia. Investor kini memantau secara ketat perkembangan pembicaraan nuklir AS–Iran yang akan berlangsung di Jenewa dalam beberapa hari ke depan.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai peluang investasi dan trading komoditas energi, kunjungi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya. Anda juga dapat mencoba simulasi transaksi secara langsung melalui Demo Account Trading EWF guna memahami dinamika pasar global dan pergerakan harga komoditas secara real-time.
Selain negosiasi nuklir, pasar juga menunggu hasil pertemuan aliansi OPEC+ pada akhir pekan mendatang. Sejumlah delegasi memperkirakan kelompok produsen minyak tersebut akan menyetujui kenaikan produksi secara moderat. Meski demikian, pasar saat ini lebih fokus pada risiko geopolitik dibandingkan potensi peningkatan suplai global.
Laporan terbaru juga menunjukkan pemerintah AS telah melakukan pengerahan militer terbesar di Timur Tengah sejak Perang Teluk kedua pada 2003, termasuk penempatan dua kapal induk dan tambahan jet tempur siluman F-22 ke kawasan Israel. Situasi tersebut meningkatkan spekulasi mengenai kemungkinan aksi militer terhadap Iran apabila proses diplomasi menemui jalan buntu.
Iran sendiri terus menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan membantah tengah mengembangkan senjata nuklir. Namun demikian, pasar tetap khawatir terhadap potensi gangguan distribusi minyak global, khususnya melalui Strait of Hormuz yang menjadi jalur utama sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan volatilitas pasar energi global.
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik, laporan juga menyebut Iran mulai mempercepat pengiriman minyak ke kapal tanker dalam beberapa hari terakhir. Langkah ini dinilai sebagai upaya antisipasi apabila terjadi eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Ikuti update market, analisis trading, dan berita ekonomi terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis Official serta jaringan sosial media resmi perusahaan di Linktree EWF Praxis. Informasi finansial dan perkembangan pasar global lainnya juga dapat Anda akses melalui Newsmaker.id.
