Harga minyak mentah Amerika Serikat mencatat lonjakan mingguan terbesar sepanjang sejarah setelah perang di Iran mulai mengganggu arus energi global. Situasi di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan minyak dunia, terutama setelah pengiriman melalui Selat Hormuz dilaporkan hampir berhenti total akibat meningkatnya ancaman keamanan.
Pada perdagangan Jumat (6/3), kontrak WTI melonjak sekitar 12% dan ditutup sedikit di bawah level US$91 per barel, menjadi kenaikan harian terbesar dalam hampir enam tahun terakhir. Sementara itu, Brent sebagai acuan global ditutup mendekati US$93 per barel, mempertegas sentimen bullish yang masih mendominasi pasar energi global.
Kenaikan harga minyak semakin dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran memperingatkan bahwa Uni Eropa dapat menjadi βtarget sahβ apabila ikut terlibat dalam konflik. Ancaman tersebut membuat pelaku pasar semakin khawatir terhadap potensi eskalasi perang yang lebih luas dan dampaknya terhadap jalur distribusi energi internasional.
Gangguan pasokan mulai terasa di sejumlah negara produsen minyak utama. Laporan terbaru menyebut Kuwait mulai memangkas produksi di beberapa ladang minyak akibat kapasitas penyimpanan yang semakin terbatas. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa pasokan global akan semakin ketat jika gangguan distribusi melalui Selat Hormuz terus berlangsung.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai peluang investasi dan trading minyak, emas, maupun komoditas global lainnya, kunjungi PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya. Anda juga dapat mencoba simulasi trading secara langsung melalui Demo Account Trading EWF untuk memahami pergerakan pasar dan fitur transaksi secara real-time.
Menurut laporan Joint Maritime Information Center (JMIC), lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz kini mengalami βhampir penghentian total.β Faktor keamanan, tingginya biaya asuransi perang, hingga ketidakpastian operasional membuat banyak kapal tanker memilih menunda pelayaran. Situasi tersebut langsung berdampak pada lonjakan biaya pengiriman energi global.
Di sisi lain, pemerintah United States mulai mengambil langkah antisipasi untuk menahan lonjakan harga energi. Presiden Donald Trump memberi sinyal akan ada kebijakan tambahan untuk meredam tekanan harga minyak, meski Gedung Putih membantah rencana penggunaan cadangan minyak strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) dalam waktu dekat.
Pasar juga mulai berspekulasi mengenai kemungkinan pelepasan cadangan energi secara terkoordinasi oleh beberapa negara besar. Japan dilaporkan mempertimbangkan penggunaan cadangan minyak nasional, sementara China meminta sejumlah kilang besar menghentikan ekspor diesel dan bensin demi menjaga pasokan domestik tetap aman.
Sejumlah lembaga keuangan global memperingatkan bahwa harga minyak masih berpotensi naik lebih tinggi jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lebih lama. Goldman Sachs menilai Brent berpeluang menembus level US$100 per barel apabila distribusi minyak global terus terganggu dalam beberapa pekan mendatang.
Selain memukul pasar energi, lonjakan harga minyak juga mulai memicu kekhawatiran inflasi global. Kontrak diesel Eropa dilaporkan menuju kenaikan mingguan lebih dari 50%, sementara sejumlah bank sentral mulai memberi sinyal kewaspadaan terhadap potensi tekanan inflasi baru akibat mahalnya biaya energi dan transportasi.
Ikuti update market, analisis trading, dan berita ekonomi global terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis Official serta jaringan sosial media resmi perusahaan di Linktree EWF Praxis. Informasi finansial dan perkembangan pasar komoditas lainnya juga dapat Anda baca melalui Newsmaker.id.
