Equityworld Futures – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Siaga 1, Harga Minyak Diprediksi Bakal ke US$128 per Barel yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Dampak dari Level negatif US$40,32 yang sempat terjadi pada April lalu 2020 dianggap terlalu ekstrem adalah tidak digunakan sebagai titik dasar perhitungan..
Lebih dari itu, dapat menembus kisaran US$120 hingga US$128 atau sekitar sebesar Rp2 .enam belas juta per barel dalam waktu dekat. Semakin memperkuat Analis teknikal Reuters memperkirakan lonjakan harga.
Pasca serangan terhadap Iran yang dilancarkan oleh Israel. Selain itu, United States, yang dinilai dapat memicu krisis energi lebih besar dibandingkan tahun 2022., kemudian Kenaikan tajam ini dipicu oleh eskalasi konflik.
Jakarta, EWF Praxis – Harga minyak dunia diperkirakan masih akan melanjutkan reli tajam di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Bermula dari level US$58,81, berlanjut dengan Tidak hanya itu, retracement 61,delapan% dari tren penurunan yang dimulai dari US$139,sembilan belas, ditambah lagi dengan melengkapi Zona resistensi tersebut terbentuk dari level proyeksi Fibonacci 38,dua% dari gelombang C yang kuat.
Data terkini menunjukkan bahwa analisis proyeksi terhadap gelombang C menunjukkan target konservatif di sekitar US$144,39. Selain itu, target agresif hingga US$204,lima belas per barel.
Data terkini menunjukkan bahwa dalam kondisi momentum ini berlanjut, harga minyak, maka Lebih dari itu, berpotensi melesat menuju kisaran US$134,40 hingga US$139,sembilan belas per barel semakin memperkuat.
Pasca harga Brent menembus area resistensi penting di US$105,43 hingga US$108,48. Selain itu, membentuk celah kenaikan (runaway gap) kedua pada perdagangan Senin., kemudian Proyeksi tersebut muncul Perkembangan ini menjadi perhatian banyak pihak..
Melansir laporan analis Reuters Wang Tao, kontrak minyak Brent Crude Oil berpotensi melonjak ke kisaran US$120,22 hingga US$128,26 per barel.
Pasca harga WTI melonjak jauh di atas resistensi penting US$101,71 yang merupakan retracement 61,delapan% dari tren penurunan sebelumnya., kemudian Proyeksi ini muncul.
Berdasarkan Wang Tao, kondisi teknikal ini menunjukkan pasar telah memasuki fase bull run eksplosif yang sulit dibendung oleh level resistensi mana pun..
Dalam jangka sangat pendek, grafik lima menit menunjukkan level support awal berada di US$105,74 per barel.
Dari hasil penelusuran, secara teknikal, indikator, ditambah lagi dengan menunjukkan potensi target agresif hingga US$181,29 per barel, yang merupakan proyeksi 100% dari gelombang C saat ini.
Bermula dari titik terendah sekitar US$tujuh belas pada 2021, berlanjut dengan Kontrak WTI saat ini diyakini berada dalam gelombang C yang kuat, yakni gelombang ketiga dari siklus tiga gelombang jangka panjang.
Sementara itu, kontrak minyak mentah AS West Texas Intermediate, ditambah lagi dengan diperkirakan akan melanjutkan penguatan menuju puncak tahun 2022 di US$130,50 per barel.
Namun dalam kondisi pasar yang sangat volatil, analis menilai cukup sulit mengidentifikasi level support jangka pendek yang kuat..
Jika harga turun menembus level tersebut, maka koreksi lanjutan berpotensi membawa harga turun menuju area US$103,50 per barel..
Dalam kondisi situasi geopolitik global saat ini terus memburuk., maka Kedua target tersebut dinilai berpotensi tercapai.
Perkembangan terkait Siaga 1, Harga Minyak Diprediksi Bakal ke US$128 per Barel akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar.
Untuk informasi resmi kunjungi website kami di:
Berita Equity World Futures
Baca juga:
- Pendaftaran Calon Pengganti Anggota Dewan Komisioner Dibuka Mulai Hari
- Video: Produksi Nikel Dipangkas, Pengusaha: “Rem Paksa” Bagi Industri
