Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Kamis (12/3) dan kembali ditutup di atas level US$100 per barel. Kenaikan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan komitmen mempertahankan penutupan Selat Hormuz. Situasi tersebut memperbesar risiko gangguan distribusi energi global dan mendorong lonjakan premi risiko di pasar minyak.
Minyak Brent tercatat naik sekitar 9,22% dan ditutup di level US$100,46 per barel, menjadi penutupan pertama di atas US$100 sejak Agustus 2022. Sementara itu, WTI menguat 9,72% ke US$95,73 per barel. Kenaikan harga juga dipicu serangkaian serangan terhadap kapal komersial di kawasan Teluk Persia, termasuk laporan serangan terhadap tanker minyak dan kapal kargo di dekat perairan Irak serta Uni Emirat Arab.
Ikuti perkembangan market global, analisa komoditas, dan update ekonomi terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis serta seluruh kanal resmi perusahaan di Linktree Equityworld Praxis.
Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, sehingga setiap gangguan terhadap jalur tersebut langsung memengaruhi ekspektasi pasokan fisik dan biaya pengiriman energi global. Pasar kini menilai persoalan utama bukan hanya ketersediaan stok minyak, tetapi juga keamanan distribusi dan kelancaran lalu lintas tanker di kawasan konflik.
Di tengah lonjakan harga, International Energy Agency (IEA) sebelumnya telah mengumumkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar sepanjang sejarah sebesar 400 juta barel, termasuk 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve AS. Namun langkah tersebut belum mampu meredakan kekhawatiran pasar karena pelaku industri masih meragukan efektivitas tambahan pasokan jika jalur distribusi utama tetap terganggu.
Komentar pejabat AS juga turut memengaruhi sentimen pasar. Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan Angkatan Laut AS saat ini belum siap memberikan pengawalan penuh terhadap tanker minyak di Selat Hormuz karena fokus operasi masih tertuju pada pengamanan militer kawasan. Pernyataan tersebut memperbesar ketidakpastian mengenai kapan aktivitas pengiriman energi dapat kembali normal.
Sejumlah analis menilai harga minyak berpotensi tetap tinggi selama belum ada tanda pemulihan arus tanker di Hormuz. Pelepasan cadangan strategis memang dapat menjadi bantalan sementara untuk menjaga pasokan, namun tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah logistik dan keamanan distribusi energi global. Pasar kini akan fokus memantau perkembangan keamanan pelayaran di kawasan Teluk, implementasi pelepasan cadangan IEA, serta kemungkinan perubahan kebijakan AS terkait pengawalan tanker minyak.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai layanan dan produk trading dari PT Equityworld Futures Praxis Surabaya, Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui Demo Account Equityworld Futures. Dapatkan juga berita ekonomi dan market update terbaru lainnya melalui Newsmaker Indonesia.
