Equityworld Futures – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Selat Hormuz Membara, Harga Minyak Sentuh US$101 per Barel yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Sebagaimana diberitakan, data Refinitiv menunjukkan harga Brent pada perdagangan Jumat (tiga belas/tiga/2026) pukul sepuluh.00 WIB berada di US$101,enam belas per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$96,34 per barel.
Namun, langkah tersebut hanya memberi jeda singkat bagi pasar.
Dua kapal tanker bahan bakar dilaporkan diserang oleh perahu bermuatan bahan peledak milik Iran di perairan Irak.
Dari hasil penelusuran, pejabat keamanan Irak menyatakan kepada media pemerintah bahwa seluruh pelabuhan ekspor minyak negara tersebut kini menghentikan operasi, sebuah perkembangan yang memperketat pasokan minyak dari kawasan Teluk. Situasi ini terus dipantau oleh otoritas terkait..
Pergerakan ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia..
Prioritas diberikan pada Pasca pasar energi global diguncang eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia,, terutama Fokus utama pada terkait ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran, kemudian Lonjakan harga terjadi,.
Melansir dari Reuters, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa negaranya akan terus melanjutkan perlawanan. Selain itu, mempertahankan penutupan Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Dengan tujuan meredakan kekhawatiran pasokan global yang semakin ketat., dilakukan Kebijakan tersebut dimaksudkan.
Jakarta, EWFย Nusantara –ย Harga minyak dunia kembali melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kebijakan ini dilakukan secara terkoordinasi dengan negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) yang berencana melepaskan 400 juta barel cadangan minyak strategis, angka yang disebut sebagai pelepasan terbesar sepanjang sejarah lembaga tersebut. Situasi ini terus dipantau oleh otoritas terkait..
Di tengah situasi tersebut, pasar minyak global bergerak dalam volatilitas tinggi sepanjang periode Maret Perkembangan ini menjadi perhatian banyak pihak..
Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan bahwa dalam upaya menahan lonjakan harga, pemerintah Amerika Serikat, ditambah lagi dengan mengumumkan pelepasan 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) Demikian informasi yang berhasil dihimpun..
Situasi keamanan di kawasan, ditambah lagi dengan semakin memburuk.
Oman, melansir dari laporan Bloomberg yang dikutip Reuters, memindahkan seluruh kapal dari terminal ekspor minyak utama Mina Al Fahal sebagai langkah pencegahan.
Sebagaimana diberitakan, bermula dari periode Agustus 2022., berlanjut dengan Pernyataan tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak lebih dari sembilan% pada Kamis, sekaligus membawa harga ke level tertinggi.
Sementara itu Arab Saudi mulai mengalihkan rute tanker melalui pipa East-West menuju Laut Merah, meski harus membayar premi logistik yang lebih mahal..
Meski demikian, sentimen pasar tetap dibayangi eskalasi militer di kawasan Teluk.
Ketegangan ini mendorong berbagai negara mengambil langkah darurat.
Prioritas diberikan pada Menariknya, Iran disebut masih mengizinkan satu hingga dua tanker per hari melewati Selat Hormuz,, terutama Fokus utama pada menuju China,.
Bermula dari pertengahan 2022., berlanjut dengan Kenaikan ini menempatkan harga minyak di level tertinggi.
Menurutnya, stabilitas pasar energi global sangat bergantung pada kembalinya jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak dunia..
Dari hasil penelusuran, dengan tujuan membeli minyak Rusia yang saat ini terdampar di laut, kemudian Melansir dari Reuters, harga minyak sempat terkoreksi pada Jumat pagi, dilakukan Pasca Amerika Serikat mengeluarkan lisensi sementara selama 30 hari bagi negara-negara.
Dengan tujuan menjaga aliran pendapatan minyak sekaligus mempertahankan dukungan Beijing di tengah tekanan geopolitik yang semakin memanas., dilakukan Melansir dari Reuters, langkah ini dinilai sebagai strategi Tehran.
Mendahului melonjak ke atas US$100 per barel hanya dalam waktu kurang dari dua pekan, terjadi Data Refinitiv menunjukkan Brent sempat berada di US$81 per barel pada awal pada Maret,.
Melansir dari Reuters, analis Haitong Futures Yang An menilai lisensi tersebut belum menyentuh persoalan inti.
// Situasi ini terus dipantau oleh otoritas terkait..
Perkembangan terkait Selat Hormuz Membara, Harga Minyak Sentuh US$101 per Barel akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar.
Untuk informasi resmi kunjungi website kami di:
Berita Equity World Futures
Baca juga:
- Harga Minyak Naik, Risiko Iran Kalahkan Sentimen Stok AS
- Harga Perak Tertekan Setelah Eskalasi Ketegangan Rusia-Ukraina, Terseret di Bawah $31,00
