Harga minyak dunia kembali mengarah pada kenaikan mingguan seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah yang membuat pasar energi global tetap berada dalam tekanan tinggi. Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia dilaporkan masih nyaris tertutup, sementara serangan terhadap infrastruktur energi terus meluas ke berbagai titik di kawasan Teluk Persia.
Minyak Brent diperdagangkan di sekitar US$109 per barel dan telah naik sekitar 6% sepanjang pekan ini setelah sebelumnya ditutup pada level tertinggi sejak pertengahan tahun 2022. Volatilitas pasar tetap sangat tinggi, dengan pergerakan harian rata-rata lebih dari US$10 sejak perang dimulai, terutama setelah meningkatnya serangan terhadap fasilitas energi di kawasan.
Ikuti update market global, analisa komoditas, dan edukasi trading terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis serta akses seluruh sosial media resmi perusahaan melalui Linktree Equityworld Praxis.
Eskalasi terbaru menunjukkan Iran terus melanjutkan serangan ke beberapa negara tetangga di kawasan Teluk Persia. Meski Israel disebut menahan diri untuk tidak menyerang fasilitas energi Iran dan Presiden AS Donald Trump berupaya menekan eskalasi terhadap aset minyak dan gas, pasar tetap menilai risiko pasokan global masih sangat tinggi.
Serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran awal pekan ini kemudian diikuti balasan Teheran terhadap sejumlah fasilitas energi penting di kawasan. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak dan gas alam Eropa, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas energi global. Pemerintah berbagai negara kini berupaya membatasi dampak ekonomi dari gangguan pasokan tersebut.
Brent sendiri telah melonjak hampir 50% sepanjang bulan ini dan terus mengungguli penguatan WTI. Penutupan hampir total Selat Hormuz membuat pasokan minyak βterjebakβ di kawasan Teluk Persia dan memaksa sejumlah produsen utama OPEC menurunkan tingkat produksi. Situasi ini dinilai membuat pasar minyak semakin rentan terhadap lonjakan harga lebih lanjut apabila konflik terus berkepanjangan.
Pada perdagangan terakhir, Brent kontrak Mei tercatat naik 0,4% ke level US$109,06 per barel di London, sementara WTI Mei bergerak relatif datar di US$95,18 per barel. Di lapangan, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan masih memiliki kemampuan memproduksi rudal, sementara Kuwait menutup sejumlah unit kilang Al Ahmadi setelah serangan drone dan Arab Saudi melaporkan pencegatan rudal di wilayahnya.
Upaya Amerika Serikat untuk menahan lonjakan harga minyak, termasuk melalui pelepasan cadangan strategis, justru memperlebar selisih harga antara WTI dan Brent hingga sekitar US$14 per barel. Kondisi ini menciptakan situasi yang tidak biasa, di mana Brent berpotensi mencatat kenaikan mingguan sementara WTI justru bergerak menuju penurunan mingguan.
Selain minyak, harga gas alam Eropa juga melonjak mendekati dua kali lipat dibanding level sebelum perang dimulai. Kenaikan biaya energi dan bahan bakar tersebut memperbesar risiko inflasi global dan meningkatkan kekhawatiran bahwa bank sentral dunia akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut konflik ini sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global modern, dengan produsen di kawasan Teluk memangkas sekitar 10 juta barel per hari produksi minyak. Sejumlah analis juga memperingatkan harga minyak berpotensi menembus US$180 per barel apabila gangguan pasokan bertahan hingga akhir April.
Pasar kini terus memantau perkembangan konflik, kondisi jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta potensi serangan lanjutan terhadap infrastruktur energi. Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi, volatilitas pasar minyak diperkirakan akan tetap mendominasi perdagangan energi global.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai layanan dan produk trading dari PT Equityworld Futures Praxis Surabaya, Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui Demo Account Equityworld Futures. Dapatkan pula berita ekonomi dan market update terbaru lainnya melalui Newsmaker Indonesia.
