Harga emas berhasil memangkas sebagian kerugiannya pada perdagangan Senin (23/3) setelah muncul harapan de-eskalasi konflik di Timur Tengah. Meski demikian, pasar logam mulia masih berada di bawah tekanan karena investor tetap menilai suku bunga global berpotensi bertahan tinggi lebih lama akibat lonjakan harga energi dari perang Iran yang memicu risiko inflasi.
Pada perdagangan sore waktu AS, harga emas spot (XAU/USD) turun sekitar 1,7% ke level US$4.408,33 per ons setelah sebelumnya sempat anjlok lebih dari 8% di awal sesi. Sementara itu, kontrak emas berjangka melemah sekitar 3,6% ke level US$4.444,81 per ons. Di pasar logam lainnya, platinum turun lebih dari 5%, sedangkan perak justru bergerak berlawanan arah dengan kenaikan mendekati 2%.
Sentimen pasar mulai membaik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington telah melakukan pembicaraan yang โbaik dan produktifโ dengan Iran. Trump juga mengaku telah menginstruksikan Pentagon untuk menunda sementara rencana serangan terhadap fasilitas listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan.
Ikuti perkembangan market global, analisa emas, dan update ekonomi terbaru melalui Instagram Equityworld Praxis serta akses seluruh sosial media resmi perusahaan melalui Linktree Equityworld Praxis.
Dalam pernyataannya di media sosial, Trump mengatakan pembicaraan yang berlangsung selama dua hari terakhir bertujuan mencari โpenyelesaian lengkap dan totalโ atas konflik yang sedang berlangsung. Pernyataan tersebut sempat meredakan kepanikan pasar dan mendorong aksi bargain hunting di sejumlah aset safe haven termasuk emas.
Namun, dari pihak Iran, pemerintah membantah adanya diskusi langsung dengan Amerika Serikat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan posisi Teheran terkait Selat Hormuz dan syarat penghentian perang masih belum berubah. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ketidakpastian geopolitik masih sangat tinggi dan berpotensi kembali memicu volatilitas pasar sewaktu-waktu.
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap emas juga datang dari kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak dunia. Pasar menilai shock energi dari konflik Timur Tengah dapat membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi tersebut biasanya menjadi hambatan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Pergerakan emas saat ini mencerminkan tarik-menarik antara sentimen safe haven dan kekhawatiran kebijakan moneter ketat. Jika tensi geopolitik kembali meningkat, permintaan terhadap emas berpotensi menguat lagi. Namun jika harga energi terus mendorong inflasi dan memperkuat dolar AS, ruang kenaikan emas kemungkinan tetap terbatas dalam jangka pendek.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai layanan dan produk trading dari PT Equityworld Futures Praxis Surabaya, Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui Demo Account Equityworld Futures. Dapatkan pula berita ekonomi dan market update terbaru lainnya melalui Newsmaker Indonesia.
