Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. XAU/USD tercatat diperdagangkan di sekitar US$4.665 atau turun hampir 1,50%, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi tiga pekan di sekitar US$4.773 pada sesi Asia.
Pelemahan emas terjadi seiring naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan dolar AS pasca rilis data inflasi terbaru. Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan inflasi tahunan AS naik menjadi 3,8% pada April, lebih tinggi dibanding proyeksi pasar sebesar 3,7%. Sementara itu, inflasi inti juga tercatat meningkat di atas ekspektasi, memperlihatkan bahwa tekanan harga di AS masih cukup kuat.
Pantau update market terbaru, analisa harian, dan edukasi trading melalui Instagram resmi kami di
Equityworld Praxis Official Instagram
Kenaikan inflasi disebut banyak dipengaruhi oleh tingginya harga energi akibat gangguan distribusi minyak di sekitar Selat Hormuz. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa The Fed tidak hanya akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, tetapi juga membuka peluang adanya kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan inflasi terus meningkat. Situasi ini membuat daya tarik emas sebagai aset non-yielding menjadi berkurang.
Berdasarkan proyeksi CME FedWatch, pasar saat ini memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga tetap stabil hingga akhir tahun. Meski demikian, pelaku pasar masih melihat adanya peluang sekitar 36% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember. Ekspektasi tersebut mendorong yield Treasury AS terus bergerak naik dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga logam mulia.
Pelajari lebih lanjut mengenai produk investasi dan layanan trading bersama
PT. Equityworld Futures Praxis Surabaya
Anda juga dapat mencoba simulasi trading melalui akun demo gratis di
Demo Trading Equityworld Futures
Di luar faktor ekonomi, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran juga masih menjadi perhatian pasar. Negosiasi terkait program nuklir Iran disebut masih mengalami kebuntuan setelah Presiden Donald Trump menolak respons terbaru dari Teheran dan menyebut situasi gencatan senjata berada dalam kondisi yang sangat rapuh. Laporan juga menyebut Washington tengah mempertimbangkan opsi operasi militer baru di sekitar Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran menegaskan siap memberikan respons terhadap setiap bentuk agresi yang dianggap mengancam negaranya. Ketidakpastian geopolitik tersebut membuat volatilitas pasar emas diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek, terutama apabila ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat bersamaan dengan tekanan inflasi global.
Ikuti juga perkembangan berita ekonomi dan finansial terbaru melalui
Newsmaker Indonesia
serta akses seluruh media sosial perusahaan melalui
Linktree EWF Praxis
